BRANAYOGATALKS.COM, GIANYAR – Fajar baru saja menyingsing di pesisir Bali. Langit jingga keemasan berpadu dengan debur ombak yang lembut, menghadirkan keindahan alam yang selama ini dikenal sebagai surga dunia. Namun di balik itu, masih terlihat pemandangan yang memprihatinkan: kantong plastik, botol minuman, dan sisa aktivitas manusia yang tertinggal.
Melalui sesi Branayoga Talk, Perbekel Desa Temesi, I Ketut Branayoga, S.E., yang akrab disapa Ahok Temesi, menyampaikan refleksi kritis terkait persoalan sampah di Bali yang kini semakin serius.
“Bali ini dikenal dunia sebagai pulau surga. Tapi kalau kita biarkan sampah menguasai pantai dan laut kita, citra itu bisa runtuh. Ini bukan lagi persoalan kecil, ini sudah darurat,” tegas Ahok Temesi.
Dalam pemaparannya, ia menggambarkan dampak nyata sampah terhadap ekosistem. Salah satunya adalah ancaman bagi biota laut seperti penyu yang kerap salah mengira plastik sebagai makanan.
“Itu bukan sekadar cerita, itu kenyataan yang terjadi. Sampah kita membunuh kehidupan laut secara perlahan,” ujarnya.
Menurut Ahok Temesi, Bali menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari. Namun, sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir, bahkan mencemari sungai hingga laut. Hal ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pariwisata.
“Kalau wisatawan datang dan melihat pantai kita kotor, sungai penuh sampah, tentu mereka kecewa. Ini bisa berdampak pada kunjungan wisata dan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti beberapa penyebab utama meningkatnya volume sampah, mulai dari pertumbuhan pariwisata, tingginya penggunaan plastik sekali pakai, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, hingga sistem pengelolaan yang belum optimal.
Dampaknya pun sangat luas, mulai dari pencemaran laut, kematian biota, masuknya mikroplastik ke rantai makanan, kerusakan ekosistem pesisir, hingga potensi banjir akibat saluran tersumbat.
Meski demikian, Ahok Temesi menekankan bahwa solusi bisa dimulai dari langkah sederhana.
“Kurangi plastik sekali pakai, biasakan memilah sampah, dukung bank sampah, bawa tas belanja sendiri, dan gunakan botol isi ulang. Hal kecil ini kalau dilakukan bersama akan berdampak besar,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat regulasi dan sistem pengelolaan sampah, disertai kesadaran masyarakat sebagai kunci utama keberhasilan.
“Kita ingin Bali tetap indah, bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk generasi mendatang,” tutup Ahok Temesi.
Melalui refleksi ini, Ahok Temesi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, demi masa depan Bali yang berkelanjutan. (Tim BranayogaTalks)