GIANYAR | Branayogatalks.com – Perhelatan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak di Kabupaten Gianyar tahun ini dinilai menghadirkan warna baru dalam dinamika demokrasi desa. Perkembangan teknologi informasi, meningkatnya partisipasi masyarakat, hingga semakin kritisnya pemilih membuat suasana Pilkades terasa jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Perbekel Desa Temesi, I Ketut Branayoga, SE, yang akrab disapa Ahok Temesi, menilai Pilkades kali ini bahkan memiliki atmosfer yang menyerupai pemilihan presiden (Pilpres).
“Kalau kita amati bersama, Pilkades serentak di Kabupaten Gianyar tahun ini terasa sangat berbeda. Suasananya jauh lebih dinamis dibandingkan beberapa tahun lalu. Bahkan banyak masyarakat mulai berkomentar bahwa Pilkades sekarang rasanya seperti Pilpres,” ujarnya.
Menurut Ahok Temesi, perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menunjukkan semakin matangnya demokrasi di tingkat desa.
Salah satu faktor utama adalah pesatnya perkembangan media sosial yang kini menjadi ruang kampanye yang sangat efektif bagi para calon perbekel.
“Dulu kampanye lebih banyak dilakukan secara langsung, dari rumah ke rumah atau melalui pertemuan warga. Sekarang cukup dengan satu video yang menarik, ribuan orang bisa menyaksikannya hanya dalam hitungan jam. Jangkauan informasi menjadi jauh lebih luas,” jelasnya.
Selain itu, Ahok Temesi melihat masyarakat kini tidak lagi menentukan pilihan hanya berdasarkan kedekatan personal atau popularitas calon. Pemilih semakin rasional dengan mempertimbangkan program kerja, rekam jejak, integritas, serta kemampuan calon dalam membawa perubahan bagi desa.
“Masyarakat sekarang semakin kritis. Mereka ingin tahu apa visi misinya, bagaimana rekam jejaknya, apakah benar-benar mampu mengelola desa dengan baik, dan bisa menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat,” katanya.
Tidak hanya itu, keterlibatan berbagai elemen masyarakat juga semakin meningkat. Anak-anak muda mulai aktif berdiskusi mengenai arah pembangunan desa, tokoh masyarakat memberikan pandangan, hingga pembahasan mengenai Pilkades menjadi bagian dari diskusi di lingkungan keluarga.
“Ini menunjukkan bahwa demokrasi desa semakin hidup. Semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap masa depan desanya,” ungkapnya.
Meski demikian, Ahok Temesi mengingatkan agar semangat kompetisi dalam Pilkades tidak sampai merusak persaudaraan yang telah terjalin di tengah masyarakat.
Menurutnya, siapa pun yang dipilih nantinya tetap akan hidup berdampingan dalam satu desa, bersembahyang di pura yang sama, menghadiri upacara adat yang sama, dan bersama-sama membangun desa.
“Perbedaan pilihan jangan sampai memutus tali persaudaraan. Setelah pemilihan selesai, kita tetap satu keluarga besar dalam desa yang sama. Yang terpenting adalah menjaga kerukunan dan kebersamaan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa Pilkades bukan sekadar menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan memilih sosok pemimpin terbaik yang mampu mengabdi kepada masyarakat secara jujur, bekerja keras, serta mampu merangkul seluruh lapisan warga.
Ahok Temesi juga mengapresiasi semakin tingginya ekspektasi masyarakat terhadap calon pemimpin desa. Menurutnya, warga kini tidak lagi mudah percaya pada janji-janji politik semata.
“Masyarakat ingin melihat bukti nyata. Mereka ingin tahu bagaimana calon akan mengelola anggaran desa, meningkatkan pelayanan publik, memberdayakan UMKM, menjaga lingkungan, menciptakan lapangan kerja, hingga menghadirkan inovasi bagi generasi muda. Ini menandakan kualitas demokrasi desa sedang meningkat,” ujarnya.
Meski optimistis terhadap perkembangan demokrasi desa, Ahok Temesi mengingatkan masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi bersama. Ia berharap seluruh pihak menghindari kampanye yang berlebihan, penyebaran informasi yang belum tentu benar, maupun serangan pribadi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Demokrasi akan menjadi indah apabila diisi dengan adu gagasan, bukan adu kebencian. Mari kita bersaing dengan program, ide, dan solusi terbaik bagi masyarakat,” katanya.
Ia juga meyakini masyarakat Gianyar memiliki modal sosial yang sangat kuat berupa budaya gotong royong, semangat kebersamaan, serta tradisi musyawarah yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Nilai-nilai itulah yang harus tetap menjadi fondasi dalam setiap pesta demokrasi. Budaya saling menghormati dan menjaga persatuan harus selalu kita utamakan,” tambahnya.
Kepada siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin desa, Ahok Temesi berpesan agar tidak memaknai kemenangan sebagai tujuan akhir.
“Kemenangan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk mengabdi kepada seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tidak memilih kita,” pesannya.
Sementara bagi calon yang belum memperoleh kepercayaan masyarakat, ia mengajak agar tetap berkontribusi bagi pembangunan desa.
“Demokrasi selalu memberikan kesempatan untuk terus berkarya. Jangan berkecil hati, tetaplah memberikan sumbangsih terbaik demi kemajuan desa,” ujarnya.
Menutup pandangannya, Ahok Temesi berharap Pilkades Serentak Kabupaten Gianyar dapat menjadi contoh pelaksanaan demokrasi yang damai, bermartabat, dan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin desa yang berkualitas.
“Karena desa yang kuat akan melahirkan kabupaten yang kuat. Kabupaten yang kuat akan memperkuat Bali. Dan Bali yang kuat akan memberikan kontribusi besar bagi Indonesia,” pungkasnya. (Tim Newsyess)