Gianyar |Branayogatalks.com – Upaya pelestarian Bahasa dan Aksara Bali terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya melalui penyelenggaraan Workshop “BALI SIMBAR DWIJENDRA” yang menghadirkan pelatihan penggunaan aplikasi pembelajaran digital untuk memudahkan masyarakat mempelajari Bahasa dan Aksara Bali.
Kegiatan ini mendapat apresiasi penuh dari Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga, yang akrab disapa Ahok Temesi. Menurutnya, inovasi berbasis teknologi seperti aplikasi Bali SIMBAR DWIJENDRA menjadi solusi yang sangat relevan di era digital, khususnya dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Bali di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Atas nama Pemerintah Desa Temesi, kami sangat mengapresiasi pelaksanaan workshop ini. Program ini akan sangat mempermudah masyarakat, khususnya generasi muda, dalam belajar Bahasa dan Aksara Bali. Kita semua tahu bahwa belajar Bahasa Bali sering kali dianggap sulit oleh sebagian masyarakat. Dengan adanya aplikasi ini, proses belajar menjadi jauh lebih mudah, menarik, dan praktis,” ujar Branayoga.
Ia menegaskan bahwa Bahasa, Aksara, dan budaya Bali merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai sangat tinggi. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Bali memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga serta melestarikannya agar tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
“Sebagai masyarakat Bali, kita patut bersyukur memiliki warisan budaya yang begitu luar biasa. Kini saatnya kita bersama-sama melestarikan Bahasa Bali, Aksara Bali, dan seluruh nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur,” katanya.
Menurut Branayoga, hadirnya aplikasi Bali SIMBAR DWIJENDRA merupakan bentuk inovasi yang mampu menjembatani kebutuhan generasi muda dengan perkembangan teknologi. Melalui media digital, proses belajar tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu sehingga masyarakat dapat belajar kapan saja dan di mana saja.
Ia berharap aplikasi tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Temesi, tetapi juga dapat diterapkan secara luas di seluruh desa di Bali.
“Kami sangat mendukung program ini. Harapan kami, desa-desa lain maupun para penyuluh Bahasa Bali di seluruh Provinsi Bali dapat meniru apa yang kami laksanakan di Desa Temesi. Kami juga berharap Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dapat memberikan arahan serta mendorong agar aplikasi ini disebarluaskan sehingga semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mempelajari Bahasa dan Aksara Bali,” ungkapnya.
Workshop Bali SIMBAR DWIJENDRA menjadi salah satu langkah nyata pemanfaatan teknologi digital dalam pelestarian budaya lokal. Di tengah era digitalisasi, inovasi semacam ini diharapkan mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk lebih mencintai identitas budayanya sendiri tanpa harus meninggalkan kemajuan teknologi.
Melalui sinergi antara pemerintah desa, penyuluh Bahasa Bali, dunia pendidikan, dan masyarakat, penggunaan aplikasi Bali SIMBAR DWIJENDRA diharapkan menjadi gerakan bersama dalam menjaga eksistensi Bahasa dan Aksara Bali agar tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai identitas budaya Pulau Dewata. (Tim Newsyess)