Kabar

Bali di Antara Dupa dan Sampah: Seruan Refleksi Tajam Kades Temesi untuk Menyelamatkan Pulau Dewata dari Krisis Limbah

Share:
Ahok Temesi Sampah Bali
Ahok temesi tawarkan solusi

Gianyar | Branayogatalks.com- 29 April 2026 – Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga, SE, yang akrab disapa Ahok Temesi, menyampaikan refleksi tajam tentang kondisi Bali hari ini melalui narasi bertajuk “Bali di Antara Dupa dan Sampah”. Dalam pesannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk jujur melihat realitas yang tengah dihadapi Pulau Dewata: keindahan spiritual yang kini dibayangi persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan.

Menurutnya, Bali selama ini dikenal sebagai pulau yang hidup dengan harmoni. Setiap pagi disambut harum dupa, alunan gamelan dari pura, serta aktivitas masyarakat yang sarat makna spiritual. “Bali bukan sekadar destinasi wisata, tetapi doa yang hidup,” ungkapnya.

Namun di balik keindahan itu, muncul persoalan yang tak bisa lagi disembunyikan. Bau sampah kini menjadi “wajah lain” Bali. Ia mempertanyakan, apakah Bali masih layak disebut pulau surga, atau justru sedang perlahan berubah menjadi tempat yang tidak nyaman bahkan bagi warganya sendiri.

Masalah Lama yang Tak Kunjung Tuntas

Ahok Temesi menegaskan bahwa persoalan sampah di Bali bukanlah hal baru. Tempat pembuangan akhir (TPA) yang menggunakan sistem open dumping dinilai menjadi sumber persoalan yang terus membesar. Sampah hanya ditumpuk tanpa pengelolaan optimal, hingga kini banyak TPA mengalami kelebihan kapasitas.

“Selama ini kita hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Sampah dari rumah berpindah ke tempat lain, tapi tidak pernah benar-benar hilang,” tegasnya.

Kompleksitas Sampah di Bali

Ia menjelaskan bahwa karakter sampah di Bali memiliki kompleksitas tersendiri karena dipengaruhi oleh tiga lapisan utama, yakni budaya, pariwisata, dan perilaku masyarakat.

Dalam konteks budaya, upacara adat menghasilkan sampah organik seperti daun dan bunga yang sejatinya dapat terurai alami. Namun kini, penggunaan plastik dalam sarana upacara seperti canang dan banten menjadi persoalan baru. “Makna suci bercampur dengan limbah abadi,” ujarnya prihatin.

Baca juga:  Ahok Temesi Serukan “Perang Melawan Sampah”, Dukung Langkah Presiden Prabowo Wujudkan Revolusi Hijau Nasional

Sementara itu, sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali juga menyumbang peningkatan volume sampah, terutama dari produk sekali pakai. Lonjakan wisatawan belum diimbangi sistem pengelolaan sampah yang memadai.

Di sisi lain, pola pikir masyarakat juga menjadi tantangan. Banyak yang masih menganggap sampah selesai setelah dibuang, padahal kenyataannya hanya berpindah tempat.

Sistem yang Belum Tegas

Ahok Temesi menilai akar persoalan terletak pada sistem pengelolaan yang belum terintegrasi dan tegas. Pengelolaan sampah masih berjalan terpisah antara desa dan kota, serta kebijakan yang kerap berubah tanpa konsistensi.

“Selama sampah masih bisa dibuang ke TPA, semua merasa masalah selesai. Padahal ini hanya menunda krisis yang lebih besar,” jelasnya.

Solusi Nyata dan Mendesak

Dalam pernyataannya, Ahok Temesi menawarkan sejumlah solusi konkret yang dinilai dapat segera diterapkan:

Wajib pemilahan sampah dari sumber: Rumah tangga, hotel, dan restoran harus memilah sampah, bukan sekadar imbauan tetapi kewajiban.

Penguatan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di tingkat desa sebagai garda terdepan pengelolaan sampah.

Pembatasan plastik sekali pakai secara tegas dengan penegakan hukum yang nyata.

Pemanfaatan teknologi secara bijak, seperti waste to energy, namun tidak dijadikan solusi utama tanpa pemilahan sampah.

Edukasi yang jujur dan terbuka kepada masyarakat mengenai dampak nyata sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.

Soal Identitas, Bukan Sekadar Lingkungan

Lebih jauh, Ahok Temesi menekankan bahwa persoalan sampah bukan hanya isu lingkungan, melainkan menyangkut identitas Bali itu sendiri. Filosofi Tri Hita Karana yang menjunjung harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan dinilai akan kehilangan makna jika lingkungan terus tercemar.

“Bagaimana kita berbicara tentang kesucian, jika di belakang pura sampah menggunung?” ujarnya.

Baca juga:  Desa Temesi Salurkan 12 Paket BLT Pemerintah, Ahok Temesi Pastikan  Penyaluran,Bantuan Tepat Sasaran Kepada masyarakat 

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk tidak sekadar menyalahkan, tetapi mulai mengambil peran dalam perubahan. “Bali tidak butuh orang pintar yang hanya bicara, Bali butuh orang yang mau berubah,” tegasnya.

Di akhir pesannya, Ahok Temesi mengingatkan bahwa sampah adalah cerminan perilaku manusia. “Sampah tidak pernah berbohong, ia menunjukkan siapa kita sebenarnya. Jika Bali adalah rumah kita, sudah waktunya kita berhenti mengotorinya,” pungkasnya. (Tim Newsyess)

Tag:
Kabar Terbaru