Kabar

WTE di Bali: Solusi Modern atau Risiko Masa Depan? Ahok Temesi Soroti Pentingnya Perubahan Perilaku Masyarakat

Share:

GIANYAR, Branayogatalks.com – Kepala Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, I Ketut Branayoga, SE yang akrab disapa Ahok Temesi, kembali menyuarakan perhatian serius terhadap persoalan sampah di Bali. Melalui program Branayoga Talks yang tayang pada Jumat (1/5/2026), Ahok Temesi mengangkat tema strategis bertajuk “WTE di Bali: Solusi atau Risiko Masa Depan”.

Dalam dialog tersebut, Ahok Temesi membedah secara mendalam rencana penerapan teknologi Waste to Energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi di Bali. Ia menilai, teknologi modern tersebut tidak bisa dipandang sebagai solusi tunggal tanpa melihat karakteristik sampah dan kesiapan masyarakat Bali.

“Pertanyaan besarnya adalah, apakah WTE benar-benar cocok dengan karakter sampah Bali dan budaya masyarakat kita? Atau justru akan menjadi beban baru di masa depan?” ujar Ahok Temesi membuka diskusi.

Sampah Bali Didominasi Organik

Menurut Ahok Temesi, Bali saat ini menghasilkan sekitar 4.000 hingga 4.500 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen merupakan sampah organik seperti sisa makanan, daun, serta sampah upacara keagamaan.

Sementara itu, sekitar 20 persen berupa sampah plastik, 10 persen kertas, dan sisanya kategori lain.

Ia menjelaskan bahwa fakta tersebut menjadi poin penting dalam menentukan cocok atau tidaknya teknologi WTE diterapkan di Bali.

“Mayoritas sampah Bali itu basah dan organik. Ini berbeda dengan negara maju yang sebagian besar sampahnya kering dan sudah dipilah sejak dari rumah,” jelasnya.

WTE Dinilai Tidak Efisien Jika Sampah Tidak Dipilah

Dalam paparannya, Ahok Temesi menjelaskan bahwa teknologi WTE bekerja optimal apabila sampah memiliki kadar kalor tinggi, dalam kondisi kering, dan telah dipilah dengan baik.

Namun kondisi di Bali saat ini dinilai masih jauh dari ideal.

Ia menyebutkan beberapa tantangan utama, di antaranya rendahnya budaya pemilahan sampah, dominasi sampah organik basah, hingga tingginya kadar air dalam sampah yang membuat proses pembakaran menjadi tidak efisien.

Baca juga:  Ketut Branayoga ( Ahok) Temesi Soroti Keteladanan Dedi Mulyadi: Pemimpin Dicintai Karena Ketulusan dan Kerja Nyata

“Kalau sampah masih tercampur dan basah, maka biaya operasional akan sangat mahal karena membutuhkan energi tambahan untuk pembakaran,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan potensi meningkatnya emisi berbahaya apabila pengelolaan WTE tidak dilakukan secara sempurna.

Risiko Lingkungan dan Dampak Kesehatan

Ahok Temesi menilai WTE memang memiliki sejumlah sisi positif, seperti mengurangi volume sampah dan mengurangi penumpukan di TPA. Namun di sisi lain, terdapat risiko serius yang perlu diperhatikan.

Ia menyoroti potensi munculnya emisi berbahaya seperti dioksin, partikel halus, dan logam berat yang dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat apabila sistem pengolahan tidak berjalan optimal.

Tak hanya itu, sisa abu hasil pembakaran juga tergolong limbah B3 yang memerlukan penanganan khusus.

“Kalau abu beracun ini tidak ditangani dengan benar, bisa mencemari tanah dan air,” katanya.

Menurutnya, keberadaan WTE juga berpotensi menghambat ekonomi daur ulang karena instalasi WTE membutuhkan pasokan sampah terus-menerus agar tetap beroperasi.

Padahal selama ini, banyak masyarakat Bali menggantungkan penghasilan dari sektor daur ulang sampah non-organik.

Belajar dari Jepang dan Swedia

Dalam diskusi tersebut, Ahok Temesi juga membandingkan penerapan WTE di beberapa negara maju seperti Jepang dan Swedia.

Ia menilai keberhasilan WTE di negara-negara tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi terutama pada kedisiplinan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber.

“Di Jepang dan Swedia, tingkat kesadaran masyarakat sangat tinggi. WTE digunakan hanya untuk residu atau sisa sampah yang memang tidak bisa didaur ulang,” jelasnya.

Karena itu, ia mempertanyakan kesiapan Bali jika langsung menjadikan WTE sebagai solusi utama.

Kebersihan Bali Lebih Penting dari Teknologi Mahal

Ahok Temesi menegaskan bahwa persoalan utama Bali sebenarnya bukan semata kurangnya teknologi, melainkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Baca juga:  Ahok Temesi: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Merupakan Fondasi Nyata Menuju Indonesia Emas 2045

Ia mengingatkan bahwa kebersihan Bali memiliki hubungan langsung dengan sektor pariwisata.

“Kalau pantai kotor dan sampah tidak tertangani, wisatawan akan menurun dan ekonomi Bali ikut terdampak,” ujarnya.

Sebaliknya, jika Bali bersih, maka pariwisata akan meningkat, UMKM berkembang, dan lapangan pekerjaan bertambah.

“Kebersihan lebih penting daripada sekadar teknologi mahal,” tegasnya.

Dorong TPS 3R dan Bank Sampah di Seluruh Desa

Sebagai solusi yang dinilai lebih realistis dan berkelanjutan, Ahok Temesi mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis desa.

Ia menilai optimalisasi TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di desa-desa dapat mengurangi hingga 50–60 persen sampah sejak dari sumbernya.

Selain itu, pembangunan bank sampah dan penguatan sistem daur ulang juga dinilai penting untuk menangani sampah non-organik.

“Kalau semua desa punya TPS 3R dan bank sampah yang berjalan baik, maka sebagian besar persoalan sampah bisa diselesaikan dari sumbernya,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah memberikan dukungan berupa fasilitas dan peralatan agar operasional TPS 3R dan bank sampah dapat berjalan maksimal.

Menurutnya, pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga.

Edukasi Jadi Kunci Utama

Dalam penutup dialognya, Ahok Temesi menegaskan bahwa edukasi pemilahan sampah menjadi langkah paling murah namun berdampak besar bagi masa depan Bali.

Ia menilai WTE tetap bisa digunakan, namun hanya untuk menangani residu atau sisa sampah yang benar-benar tidak dapat diolah lagi.

“WTE bukan musuh, tetapi juga bukan penyelamat tunggal. WTE hanyalah alat, bukan solusi utama,” tegasnya.

Menurut Ahok Temesi, Bali membutuhkan perubahan perilaku, sistem pengelolaan terpadu, serta kebijakan yang sesuai dengan kondisi nyata masyarakat.

“Jika masyarakat belum siap, teknologi secanggih apa pun akan gagal. Bali adalah wajah Indonesia di mata dunia. Kebersihan Bali adalah kehormatan kita bersama,” pungkasnya.
(Tim Newsyess)

Tag:
Kabar Terbaru