Kabar

Dewa Bayu: Pembuatan Gamelan Selonding dari 100 Kilogram Sampah Plastik, Pesan Pelestarian Alam dari Bali

Share:

 

BADUNG | Branayogatalks.com – Di tengah persoalan sampah plastik yang masih menjadi tantangan serius di Bali, sebuah karya seni menghadirkan pesan berbeda. Bukan sekadar bunyi gamelan yang menggema, tetapi juga suara kepedulian terhadap lingkungan.

Di kawasan Pantai Seminyak, Badung, gamelan Selonding dimainkan dengan penyangga yang dibuat dari hampir 100 kilogram sampah plastik daur ulang. Karya tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi benda bernilai seni sekaligus sarana kampanye lingkungan.

Gagasan kreatif itu datang dari seniman sekaligus inisiator pembuatan gamelan berbahan daur ulang, Dewa Bayu (26). Ia mengaku ide tersebut lahir dari kegelisahannya melihat kondisi lingkungan yang semakin dipenuhi sampah.

“Sekarang apa yang saya bisa sumbangsih pada alam? Di alam saya banyak, di lingkungan saya banyak melihat sampah. Lalu dari sanalah tercetus idenya untuk membuat gamelan ini,” ujar Dewa Bayu.

Menurutnya, pembuatan penyangga gamelan tersebut bukan pekerjaan singkat. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar delapan bulan, termasuk mengumpulkan bahan baku dan mengembangkan konsep agar material plastik dapat digunakan tanpa menghilangkan karakter seni tradisional Bali.

Dari Sampah Menjadi Karya Seni

Dewa Bayu tidak berhenti pada pembuatan penyangga gamelan. Ia juga mengembangkan berbagai aksesori berbasis plastik daur ulang yang mengadopsi bentuk-bentuk tradisional Bali.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi penggunaan bahan organik dari alam dalam pembuatan sejumlah perlengkapan seni dan aksesori tradisional.

“Yang terbaru dari kami itu ada aksesori dari plastik. Ada gelungan, ada yang berbasis tradisi. Kami meminimalisir penggunaan bahan organik dari alam dan menggantinya dengan plastik,” katanya.

Namun, inovasi tersebut tidak serta-merta diterima semua pihak. Dewa Bayu mengakui terdapat tantangan sosial karena penggunaan material plastik dalam karya yang berkaitan dengan tradisi Bali masih menimbulkan perdebatan.

Bagi sebagian kalangan, tradisi memiliki pakem dan nilai yang harus dijaga. Karena itu, pemanfaatan material daur ulang harus ditempatkan secara tepat agar inovasi lingkungan tidak menghilangkan makna budaya yang melekat pada karya seni tersebut.

Baca juga:  Ketut Branayoga ( Ahok) Temesi Soroti Keteladanan Dedi Mulyadi: Pemimpin Dicintai Karena Ketulusan dan Kerja Nyata

Meski demikian, Dewa Bayu melihat seni sebagai salah satu ruang yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan lingkungan kepada masyarakat.

Sampah yang selama ini berakhir di tempat pembuangan, menurutnya, masih memiliki peluang untuk diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila dikelola dengan baik.

Bali Hasilkan 1,25 Juta Ton Sampah per Tahun

Persoalan yang ingin disuarakan melalui karya tersebut bukan tanpa alasan. Bali menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), produksi sampah di Bali mencapai sekitar 1,25 juta ton per tahun, atau sekitar 3.436 ton setiap hari. Dari jumlah tersebut, sampah plastik menyumbang lebih dari 17 persen.

Angka tersebut menjadi perhatian serius karena Bali merupakan salah satu destinasi wisata utama dunia. Aktivitas pariwisata dan konsumsi masyarakat turut menghasilkan sampah kemasan yang membutuhkan sistem pengelolaan berkelanjutan.

Karena itu, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat, pelaku usaha, komunitas, seniman, hingga peritel perlu mengambil peran dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Drop Box Botol PET Diperluas

Salah satu upaya yang dilakukan dunia usaha adalah program Recycle Me, yang melibatkan Coca-Cola System di Indonesia, yakni Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) dan Coca-Cola Indonesia, bersama PT Global Retailindo Pratama, perusahaan ritel yang menaungi jaringan M Mart dan Big M.

Melalui program tersebut, disediakan drop box khusus botol PET pascakonsumsi di 20 gerai M Mart di Bali. Menariknya, drop box tersebut juga dibuat dari material plastik daur ulang.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Dwi Arbani, menilai persoalan sampah di Bali membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Bali saat ini menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang cukup besar sehingga membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan. Masyarakat membutuhkan akses yang lebih mudah untuk mengembalikan kemasan pascakonsumsi agar dapat didaur ulang,” ujarnya.

Baca juga:  Ukir Prestasi Gemilang, Gianyar  Borong Dua Penghargaan Nasional dan Raih Insentif Rp3 Miliar dari Kemendagri

Ketersediaan fasilitas pengumpulan yang dekat dengan aktivitas masyarakat dinilai penting agar kebiasaan memilah dan mengembalikan sampah kemasan dapat tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mendorong Ekonomi Sirkular

Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, mengatakan pembangunan ekonomi sirkular membutuhkan pendekatan menyeluruh.

Proses tersebut tidak hanya berbicara mengenai daur ulang, tetapi dimulai dari desain dan produksi kemasan, pengumpulan kemasan setelah digunakan, proses pengolahan, hingga pemanfaatannya kembali sebagai bahan baku.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci penting. Botol PET yang dikembalikan melalui fasilitas pengumpulan dapat masuk kembali ke rantai nilai daur ulang dan dimanfaatkan sebagai bahan baku kemasan baru.

Sejak 2023, Coca-Cola di Indonesia juga telah menggunakan recycled PET (rPET) dalam portofolio kemasannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan penggunaan material daur ulang sekaligus mengurangi sampah kemasan.

“Melalui kemitraan di seluruh rantai nilai, kami ingin membantu menciptakan sistem di mana kemasan tidak dipandang sebagai sampah, melainkan sebagai sumber daya bernilai yang dapat terus dimanfaatkan,” kata Dhedy.

Ketika Seni Ikut Menyuarakan Lingkungan

Kisah gamelan Selonding dari hampir 100 kilogram sampah plastik tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat disampaikan melalui berbagai cara.

Seni menjadi salah satu medium yang mampu mempertemukan tradisi, kreativitas dan pesan ekologis.

Di satu sisi, gamelan Selonding tetap membawa identitas budaya Bali. Di sisi lain, material daur ulang yang digunakan menjadi pengingat bahwa kelestarian budaya juga tidak bisa dipisahkan dari kelestarian alam.

Pesannya sederhana: sampah tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan kreativitas dan sistem pengelolaan yang tepat, limbah dapat kembali memiliki nilai.

Dan ketika suara gamelan Selonding bergema, pesan tentang menjaga Bali pun ikut terdengar. (Tim )

Tag:
Kabar Terbaru