Gianyar | Branayogatalks.com – Pemerintah Desa Temesi menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada mahasiswa Universitas Udayana (UNUD), khususnya dari Jurusan Psikologi serta Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), yang memilih Desa Temesi sebagai lokasi pelaksanaan Program Desa Dampingan.
Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga, yang akrab disapa Ahok Temesi, menyambut baik kehadiran puluhan mahasiswa yang akan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat selama kurang lebih dua bulan di wilayah Desa Temesi.
Menurutnya, program tersebut menjadi wujud nyata kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dalam upaya menjawab berbagai persoalan sosial yang berkembang di desa, sekaligus mendorong lahirnya inovasi dan solusi berbasis kebutuhan masyarakat.
“Kami dari Pemerintah Desa Temesi mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Universitas Udayana yang telah mempercayakan Desa Temesi sebagai lokasi Program Desa Dampingan. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tentu menjadi energi positif bagi pembangunan desa,” ujar Branayoga.
Program Desa Dampingan ini melibatkan sekitar 70 mahasiswa yang akan melakukan berbagai kegiatan pengabdian sosial, penelitian, serta pendampingan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan melakukan identifikasi kondisi sosial masyarakat, memfasilitasi musyawarah warga, membantu penyusunan program pemberdayaan masyarakat, serta mendukung berbagai kegiatan pembangunan desa.

Selain itu, mahasiswa juga akan terlibat dalam pendataan sosial dan membantu proses perencanaan pembangunan yang berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Branayoga menjelaskan bahwa salah satu fokus utama yang akan menjadi perhatian dalam program tersebut adalah persoalan pengelolaan sampah, mengingat Desa Temesi selama ini dikenal sebagai wilayah yang berdekatan dengan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Sarbagita.
Menurutnya, isu sampah masih menjadi tantangan besar yang tidak hanya dihadapi Desa Temesi, tetapi juga Kabupaten Gianyar dan berbagai daerah lainnya di Bali.
“Kami mengarahkan mahasiswa untuk melakukan pengabdian dan kajian sosial terkait pengelolaan sampah. Ini sangat relevan karena Desa Temesi memiliki kedekatan dengan kawasan pengolahan sampah dan hingga saat ini persoalan sampah masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pada akhir Juni mendatang Pemerintah Desa Temesi juga berencana melaksanakan sejumlah program dan inovasi terkait pengelolaan sampah. Oleh karena itu, keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi berupa data, kajian, serta rekomendasi yang dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan di tingkat desa.
“Kami ingin melakukan identifikasi secara bersama-sama, baik dari masyarakat maupun mahasiswa. Dengan demikian, berbagai persoalan yang ada dapat dipetakan secara lebih komprehensif dan dicarikan solusi yang tepat,” katanya.
Branayoga menegaskan bahwa dirinya berharap Program Desa Dampingan tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial semata, melainkan mampu menghadirkan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam kehidupan sosial masyarakat, sementara warga Desa Temesi dapat memperoleh tambahan wawasan, pendampingan, serta solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi.

“Kami berharap kegiatan ini benar-benar memberikan dampak positif. Mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di kampus melalui pengabdian kepada masyarakat, sedangkan masyarakat Desa Temesi mendapatkan manfaat berupa pendampingan, edukasi, dan solusi atas berbagai persoalan sosial, khususnya terkait pengelolaan sampah,” tegasnya.
Dengan semangat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, Pemerintah Desa Temesi optimistis Program Desa Dampingan Universitas Udayana akan menjadi langkah strategis dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat sekaligus mendorong lahirnya model pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan di Desa Temesi.
“Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan masyarakat, maka lahirlah pengabdian yang tidak hanya memberi pengalaman bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan harapan dan perubahan bagi desa,” pungkas Ahok Temesi. (Tim Newsyess)