GIANYAR | Branayogatalks.com — Pemerintah Desa Temesi mengapresiasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Ida Bagus Sugriwa Denpasar yang telah berlangsung di Desa Temesi. Kehadiran mahasiswa dinilai tidak hanya memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendukung pembangunan desa.
Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Temesi dalam sambutan pada acara penutupan KKN IHDN Ida Bagus Sugriwa Denpasar. Ia menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa, dosen pendamping, serta pihak kampus yang telah memilih Desa Temesi sebagai lokasi pelaksanaan KKN.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat merupakan kesempatan untuk saling belajar. Mahasiswa membawa ilmu pengetahuan, kreativitas dan gagasan dari lingkungan kampus, sementara masyarakat memiliki pengalaman hidup, pengetahuan lokal serta kearifan yang tumbuh dari kehidupan desa.
“KKN bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik. Ini merupakan kesempatan untuk belajar bersama masyarakat, memahami kehidupan desa sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa,” demikian inti sambutan Kepala Desa Temesi.
Ia berharap pengalaman selama berada di Desa Temesi menjadi bekal berharga bagi mahasiswa, terutama pengalaman bermasyarakat, bekerja sama, berinteraksi dengan warga dan memahami proses pembangunan di tingkat desa. Pengalaman tersebut dinilai sebagai pembelajaran yang tidak selalu dapat diperoleh di ruang kuliah.
Kepala Desa Temesi juga menyampaikan bahwa desanya memiliki beragam potensi, mulai dari sumber daya manusia, pertanian, budaya, lingkungan, UMKM, pendidikan hingga potensi wisata. Karena itu, Desa Temesi diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan KKN, tetapi dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi antara desa dan perguruan tinggi.
Kolaborasi Menjadi Kunci Pembangunan Desa
Menurutnya, pembangunan desa tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah desa. Dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah desa, masyarakat, lembaga adat, BPD, LPM, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha dan generasi muda.
“Ketika ilmu pengetahuan dari kampus bertemu dengan pengalaman masyarakat, di situlah lahir sebuah pengabdian yang sesungguhnya,” menjadi salah satu pesan penting dalam sambutan tersebut.
Apresiasi juga diberikan kepada mahasiswa yang telah berinteraksi dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, lingkungan serta kegiatan kemasyarakatan selama menjalankan program KKN di Desa Temesi.
Khusus di bidang pendidikan, keterlibatan mahasiswa bersama SDN 1 Temesi mendapat perhatian tersendiri. Sekolah dinilai bukan hanya sebagai tempat belajar anak-anak, melainkan salah satu fondasi penting dalam menyiapkan masa depan desa.
Kepala Desa Temesi berharap pengalaman mahasiswa bersama para siswa, guru, masyarakat dan perangkat desa dapat menjadi kenangan sekaligus pelajaran yang terus dibawa setelah masa KKN berakhir.
Penutupan KKN, Bukan Penutup Silaturahmi
Dalam sambutannya, Kepala Desa Temesi menegaskan bahwa penutupan KKN secara formal tidak seharusnya dimaknai sebagai berakhirnya hubungan antara mahasiswa dan masyarakat desa. Ia berharap silaturahmi yang telah terbangun dapat terus dijaga.
“Hari ini memang merupakan acara penutupan KKN. Tetapi saya berharap yang ditutup hanyalah kegiatan formalnya, bukan hubungan dan silaturahmi kita,” demikian pesan yang disampaikan kepada para mahasiswa.
Ia berharap Desa Temesi tidak sekadar menjadi nama yang tercantum dalam laporan KKN. Lebih dari itu, desa diharapkan meninggalkan kenangan, pengalaman dan ikatan emosional bagi para mahasiswa yang pernah mengabdi di tengah masyarakat.
Sebaliknya, Pemerintah Desa Temesi juga berharap suatu saat nanti para alumni KKN IHDN Ida Bagus Sugriwa dapat kembali ke desa membawa ilmu, gagasan maupun peluang kerja sama yang lebih besar.
“Bagi kami, KKN bukan akhir dari sebuah kegiatan, tetapi awal dari hubungan dan kolaborasi yang lebih luas,” menjadi pesan penutup yang menegaskan harapan agar hubungan kampus dan Desa Temesi terus berlanjut.
Membangun Desa Lewat Pertemuan Ilmu dan Kearifan Lokal
Semangat tersebut sejalan dengan kebutuhan pembangunan desa yang semakin membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui ilmu pengetahuan dan inovasi, sedangkan desa menjadi ruang nyata untuk menguji sekaligus menerapkan gagasan tersebut sesuai kebutuhan masyarakat.
Melalui KKN, pertemuan antara pengetahuan akademik dan kearifan lokal diharapkan mampu melahirkan pengalaman yang bermanfaat bagi kedua pihak. Mahasiswa memperoleh pengalaman sosial, sementara masyarakat mendapatkan tambahan energi, kreativitas dan gagasan dari generasi muda.
Dengan berakhirnya masa KKN, Pemerintah Desa Temesi berharap berbagai pengalaman dan kontribusi mahasiswa selama berada di desa tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan. Nilai pengabdian, persaudaraan dan kolaborasi diharapkan terus tumbuh dan berkembang menjadi hubungan yang lebih panjang.
Acara penutupan tersebut pun menjadi momentum untuk menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan KKN, sekaligus melepas para mahasiswa untuk kembali melanjutkan perjalanan akademik mereka.
Pemerintah Desa Temesi berharap pengalaman selama berada di tengah masyarakat menjadi bekal bagi para mahasiswa untuk tumbuh sebagai generasi intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap pembangunan masyarakat.
Menjaga Silaturahmi Setelah KKN Berakhir
Penutupan KKN akhirnya bukan sekadar seremoni perpisahan. Bagi Pemerintah Desa Temesi, momen tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan membutuhkan hubungan yang saling menguatkan antara masyarakat, pemerintah dan dunia pendidikan.
Harapannya, jejak pengabdian mahasiswa di Desa Temesi tidak berhenti ketika mereka meninggalkan desa. Ada pengalaman yang dibawa pulang, ada silaturahmi yang tetap terjaga dan, di masa mendatang, terbuka peluang lahirnya kolaborasi baru untuk kemajuan desa.
Dengan demikian, KKN IHDN Ida Bagus Sugriwa Denpasar di Desa Temesi diharapkan meninggalkan lebih dari sekadar laporan akademik. Ia menjadi pengalaman hidup, ruang belajar bersama dan awal dari hubungan yang dapat terus tumbuh antara kampus dan desa. (Tim Newsyess)