Kabar

Bank Sampah Induk (BSI) Desa Temesi Mampu Pilah 2,7 Ton Sampah Non-Organik per Minggu, Dorong Nilai Ekonomi dan Lapangan Kerja

Share:

 

GIANYAR | Branayogatalks.com — Pengelolaan sampah non-organik di Kabupaten Gianyar mulai diarahkan tidak sekadar sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga menjadi peluang ekonomi, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Bank Sampah Induk (BSI) Desa Temesi, yang kini mulai menerima sampah non-organik dari sejumlah desa. Penanggung jawab BSI Desa Temesi, I Ketut Purnajiwa, mengatakan keberadaan BSI menjadi salah satu peluang untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Menurut Purnajiwa, sampah non-organik yang sebelumnya menjadi persoalan kini dapat dipilah dan dikembangkan menjadi bahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Ini tentu patut disyukuri. Dengan adanya BSI, ada peluang untuk peningkatan PAD dan juga peluang membuka tenaga kerja bagi masyarakat yang berada di sana,” ujar I Ketut Purnajiwa.

Saat ini, proses pemilahan di BSI Desa Temesi masih dalam tahap awal. Baru empat orang tenaga pemilah yang dilibatkan untuk melakukan pemilahan sampah non-organik.

Namun, hasilnya cukup signifikan. Dalam waktu sekitar satu minggu, empat orang tersebut mampu memilah sekitar 2.700 kilogram atau 2,7 ton sampah yang masih memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan kembali.

  1. Sampah yang masuk kemudian dipilah menjadi beberapa kategori. Di antaranya kantong plastik atau keresek, plastik putih, serta barang rongsokan campuran.

Untuk kategori barang rongsokan campuran, material yang dipilah antara lain kaleng, plastik, botol minuman dan botol lainnya. Material tersebut apabila masih tercampur memiliki nilai sekitar Rp1.800 per kilogram.

Namun, menurut Purnajiwa, nilai ekonominya dapat meningkat cukup signifikan apabila material tersebut kembali dibersihkan dan dipilah.

“Kalau yang campur itu bisa dibersihkan dan dipilah lagi, nilainya bisa sampai sekitar Rp5.000 per kilogram,” jelasnya.

Tampung Sampah Non-Organik dari Sejumlah Desa

BSI Desa Temesi juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah desa di wilayah Gianyar. Sampah non-organik yang sebelumnya telah melalui proses pengolahan di TPS 3R masing-masing desa kemudian dapat dibawa ke BSI Temesi untuk ditampung dan dipilah lebih lanjut.

Baca juga:  Branayoga Talk: Ketut Branayoga Soroti Perang Andi Amran Sulaiman Melawan Mafia Pangan dan Pentingnya Kedaulatan Pangan Nasional

Menurut Purnajiwa, pola tersebut juga memberikan keuntungan bagi para pengangkut sampah. Kendaraan pengangkut tidak perlu terlalu lama mengantre ketika melakukan pembuangan.

“Sudah ada beberapa desa yang bekerja sama. Mereka bahkan lebih senang membawa ke BSI karena tidak terlalu lama menunggu saat pembuangan,” katanya.

Sistemnya, sampah dari masing-masing desa terlebih dahulu dipilah melalui TPS 3R. Sampah organik diolah di masing-masing TPS 3R, sedangkan sampah non-organik yang belum dapat dipilah atau dimanfaatkan kemudian dibawa ke BSI Desa Temesi.

Dengan kapasitas yang ada saat ini, aktivitas pengiriman sampah dilakukan secara terjadwal, yakni setiap Selasa dan Sabtu.

Dalam satu kali pengiriman, jumlah sampah yang masuk disebut dapat mencapai hampir 11 truk.

Sejumlah wilayah yang sampah non-organiknya telah masuk ke BSI Temesi antara lain Ubud, Tegak Kangin, Tampaksiring, Kemenuh Kaler, Tengkulung, dan Peliatan.

Disiapkan Tenaga hingga 30 Orang

Purnajiwa mengatakan, potensi pengembangan BSI Desa Temesi masih sangat besar. Empat orang tenaga pemilah yang saat ini bekerja masih jauh dari kebutuhan ideal.

Pihak pengelola bahkan telah menyiapkan fasilitas untuk mendukung keterlibatan tenaga kerja yang lebih banyak. Kapasitas yang disiapkan mencapai sekitar 30 orang, dengan 15 kamar yang dapat digunakan, terutama apabila tenaga kerja tersebut merupakan pasangan suami istri.

Jika jumlah tenaga kerja dapat ditingkatkan hingga 30 orang, proses pemilahan diharapkan mampu mengikuti volume sampah yang masuk.

Dengan pola pengiriman dua kali dalam sepekan, pengelola menargetkan sampah yang diturunkan pada jadwal sebelumnya sudah dapat diselesaikan sebelum kedatangan sampah pada jadwal berikutnya.

“Kalau memang 30 orang masuk, sampah yang turun dua kali seminggu itu diharapkan sebelum jadwal berikutnya sudah bersih. Misalnya Selasa turun, Jumat sudah bersih. Kemudian Sabtu sampai Selasa kembali diproses,” ujarnya.

Harapkan Dukungan Mesin Sekitar Rp1 Miliar

Meski sistem pemilahan secara manual sudah berjalan, Purnajiwa menilai BSI Desa Temesi membutuhkan dukungan peralatan agar sampah plastik yang dikumpulkan tidak selalu dijual dalam bentuk bahan baku.

Baca juga:  Sinergi Kampus dan Desa Berakhir Manis, Program Desa Dampingan Mahasiswa Sosiologi Unud Tinggalkan Jejak Positif di Temesi

Ia berharap pemerintah daerah dapat membantu pengadaan mesin pengolahan sampah plastik dengan nilai investasi sekitar Rp1 miliar.

Menurutnya, bantuan mesin akan memberikan nilai tambah yang lebih besar. Sampah plastik yang selama ini dijual keluar sebagai bahan baku nantinya dapat diproses langsung di BSI Desa Temesi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kalau pemerintah bisa membantu, kami berharap bantuan tersebut untuk pengadaan mesinnya. Dengan adanya mesin, bahan baku tidak harus langsung dijual keluar, tetapi bisa kita proses sendiri,” ungkapnya.

Pengolahan tersebut nantinya dapat menghasilkan berbagai produk berbahan dasar plastik, seperti lemari, paving, hingga material untuk tembok kamar pilah.

Meski demikian, material yang memang tidak dibutuhkan untuk proses produksi tetap dapat dijual keluar.

Bagi pengelola BSI Desa Temesi, keberadaan mesin pengolahan menjadi bagian penting dari tahapan berikutnya. Sebab, semakin panjang proses pengolahan dilakukan di tingkat BSI, semakin besar pula peluang terciptanya nilai tambah ekonomi.

Dari Sampah Menjadi Solusi

Pengelolaan sampah di BSI Desa Temesi menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat diarahkan menjadi sebuah rantai ekonomi baru. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat dipilah, dibersihkan, kemudian dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku.

Di sisi lain, keberadaan BSI juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dari aktivitas pemilahan dan pengolahan sampah.

Dengan dukungan sarana dan mesin pengolahan, BSI Desa Temesi diharapkan tidak hanya menjadi tempat penampungan sampah non-organik, tetapi berkembang menjadi pusat pengolahan yang mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Bagi Purnajiwa, semakin banyak sampah yang dapat dipilah dan diolah di tingkat BSI, semakin besar pula peluang sampah tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

“Harapannya, dengan adanya solusi pengolahan ini, sampah plastik bisa selesai di sini dan memiliki nilai tambah,” pungkasnya. (Tim Newsyess)

Tag:
Kabar Terbaru