GIANYAR | Branayogatalks.com – Puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan, kesehatan hewan, organisasi profesi, hingga pemberdayaan masyarakat menjadi modal berharga bagi Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A. untuk melanjutkan pengabdian di kampung halamannya. Berbekal pengalaman dan rekam jejak panjang tersebut, putra asli Desa Tulikup ini menyatakan kesiapannya maju sebagai bakal calon Perbekel Desa Tulikup periode 2026–2034.
Bagi Dr. Nata Kesuma, pengabdian tidak mengenal batas profesi. Setelah bertahun-tahun berkiprah sebagai akademisi, dokter hewan, peneliti, dan organisatoris, kini ia ingin membawa pengalaman itu menjadi energi baru dalam membangun desa yang lebih maju, harmonis, jaya, dan sejahtera.
Lahir di Desa Tulikup pada 26 Oktober 1962 dari pasangan almarhum I Wayan Lemuh dan Ni Nyoman Tiplek, Dr. Nata Kesuma tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana yang menanamkan nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi prinsip yang terus dipegang sepanjang perjalanan hidupnya.
Perjalanan pendidikannya dimulai dengan menempuh Program Dokter Hewan di Universitas Udayana. Semangatnya untuk terus belajar mengantarkannya meraih gelar Doktor di bidang Ilmu Peternakan di universitas yang sama. Bekal akademik tersebut kemudian menjadi fondasi kuat dalam membangun karier sebagai ahli kesehatan hewan sekaligus akademisi yang konsisten mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.
Di lingkungan perguruan tinggi, Dr. Nata Kesuma dikenal sebagai akademisi yang kerap dipercaya menjadi dosen penguji di berbagai universitas. Ia juga sering mendapat amanah sebagai penguji mahasiswa Program Doktor (S3) Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Kepercayaan tersebut menjadi bukti atas kapasitas keilmuan, integritas, serta pengalamannya dalam dunia akademik.
Kontribusinya terhadap pengembangan ilmu peternakan juga diwujudkan melalui berbagai karya ilmiah. Pada 2024, ia memperoleh Hak Cipta terkait Sapi Bali sebagai bentuk sumbangsih dalam pelestarian dan pengembangan plasma nutfah ternak asli Indonesia yang memiliki nilai strategis bagi sektor peternakan nasional.
Atas dedikasi dan pengabdiannya, ia menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun, sebagai bentuk apresiasi negara terhadap loyalitas, integritas, dan pengabdian yang telah ditunjukkan selama menjalankan tugas.
Tidak hanya aktif di dunia akademik, Dr. Nata Kesuma juga dikenal luas sebagai sosok yang aktif dalam berbagai organisasi. Ia dipercaya menjadi Komisi Etik Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali, Dewan Kehormatan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bali, pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali periode 2022–2027, serta aktif sebagai pengurus Pasemetonan Arya Wang Bang Pinatih Kabupaten Gianyar.
Berbagai amanah tersebut memperkaya pengalaman kepemimpinannya dalam membangun kolaborasi, menyelesaikan persoalan masyarakat, serta memperkuat sinergi lintas sektor.
Kini, seluruh pengalaman akademik, organisasi, dan pengabdian itu ingin ia persembahkan bagi masyarakat Desa Tulikup. Menurutnya, desa membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki niat baik, tetapi juga pengalaman, kemampuan manajerial, serta keberanian mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat.
Ia mengusung semangat JAS, akronim dari JEMET, ANTENG, dan SEKEN, sebagai filosofi kepemimpinan. Baginya, bekerja keras, tetap tenang dalam menghadapi persoalan, serta konsisten menyelesaikan setiap program merupakan kunci mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Dr. Nata Kesuma meyakini bahwa kemajuan desa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, penguatan sektor pertanian dan peternakan, pelestarian adat dan budaya, serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam pembangunan.
“Saya, Dr. drh. I Ketut Gede Nata Kesuma, M.M.A., siap mengabdikan pengalaman, ilmu, dan tenaga untuk masyarakat Desa Tulikup. Dengan semangat JAS, JEMET, ANTENG, dan SEKEN, mari kita bergandengan tangan membangun Desa Tulikup yang maju, harmoni, jaya, dan sejahtera. Saya percaya, melalui persatuan, kerja keras, dan semangat gotong royong, kita dapat menghadirkan perubahan yang nyata bagi desa yang kita cintai bersama,” ujarnya.
Bagi Dr. Nata Kesuma, pengabdian bukanlah tentang jabatan, melainkan tentang menghadirkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Pengalaman yang ditempa selama puluhan tahun di dunia akademik dan organisasi kini menjadi bekal untuk mengabdi lebih dekat, langsung di tengah masyarakat Desa Tulikup. (Tim Newsyess)