GIANYAR | Branayogatalks.com – Semangat gotong royong tidak mengenal batas wilayah. Meski merantau dan menetap di berbagai daerah di Indonesia, kecintaan warga Desa Temesi terhadap kampung halaman tetap terjaga. Rasa memiliki itulah yang melahirkan Forum Komunikasi (FORKOM) Desa Temesi, sebuah wadah yang menyatukan putra-putri Temesi di berbagai daerah untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan desa, khususnya di bidang pendidikan.
Ketua FORKOM Desa Temesi, I Ketut Manik Trikaya, didampingi anggota FORKOM I Wayan Widana, menjelaskan bahwa forum tersebut dibentuk pada tahun 2022 atas inisiatif masyarakat Temesi yang tinggal di luar daerah. Anggotanya berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Surabaya, Yogyakarta hingga Jayapura.
“Harapan kami sederhana, siapa pun warga Temesi yang sukses di luar daerah tetap memiliki ruang untuk ikut membangun tanah kelahirannya. Tidak hanya melalui gagasan, tetapi juga melalui aksi nyata,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh program pembangunan desa selalu diinformasikan kepada anggota FORKOM melalui grup WhatsApp. Dengan cara itu, para perantau tetap mengetahui perkembangan kampung halaman dan dapat memberikan saran, pengalaman, maupun dukungan sesuai kemampuan masing-masing.
“Segala program, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, kami laporkan kepada teman-teman di luar Bali. Mereka memberikan banyak masukan, bahkan ikut membantu dalam bentuk materi maupun dukungan terhadap berbagai kegiatan desa,” katanya.
Salah satu fokus utama FORKOM adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui dunia pendidikan. Mereka meyakini bahwa anak-anak merupakan penerus estafet pembangunan Desa Temesi sehingga perlu mendapatkan perhatian sejak usia dini.
Bentuk nyata kepedulian itu diwujudkan melalui bantuan seragam sekolah gratis senilai sekitar Rp9,5 juta bagi seluruh siswa di bawah naungan Yayasan Santhi Kumara Ratih yang diketuai I Gusti Ngurai Rai.
Bantuan tersebut diberikan kepada 25 siswa Kelompok Bermain (KB) Kumara Ratih dan 20 siswa TK Santhi Kumara, sehingga total 45 anak memperoleh seragam sekolah secara cuma-cuma.
Program ini diharapkan mampu meringankan beban orang tua sekaligus meningkatkan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya sejak usia dini.
“Historinya dulu jumlah murid sangat sedikit. Tahun lalu KB hanya memiliki sekitar tujuh anak. Setelah berbagai pembenahan fasilitas dan adanya bantuan seragam gratis, sekarang jumlah siswa meningkat menjadi 25 anak di KB dan 20 anak di TK,” jelas Manik Trikaya.
Selain membantu penyediaan seragam, FORKOM juga telah berpartisipasi dalam berbagai program pendidikan lainnya, seperti pembangunan mural edukatif, dukungan pengadaan perlengkapan marching band, hingga penyediaan berbagai fasilitas penunjang kegiatan belajar.
Menurutnya, kontribusi para perantau tidak hanya sebatas bantuan dana, tetapi juga transfer pengalaman dan ide-ide pembangunan yang mereka peroleh dari daerah tempat tinggal masing-masing.
“Banyak anggota kami yang bekerja di pemerintahan maupun dunia usaha. Pengalaman mereka menjadi masukan berharga bagi Desa Temesi, mulai dari pengelolaan lingkungan, pendidikan, hingga pembangunan fasilitas desa,” ungkapnya.
Sementara itu, Yayasan Santhi Kumara Ratih terus berupaya meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang dikelolanya. Salah satu target besar yang sedang diperjuangkan adalah menjadikan TK Santhi Kumara sebagai taman kanak-kanak negeri.
Berbagai persyaratan administrasi maupun sarana prasarana telah dipenuhi. Bahkan, pihak yayasan menyebut seluruh fasilitas pendidikan, termasuk ruang belajar, area bermain, hingga fasilitas penunjang lainnya, telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan oleh Dinas Pendidikan.
“Seluruh dokumen sudah kami ajukan dan sekolah juga sudah disurvei. Kami berharap ke depan TK Santhi Kumara dapat berstatus negeri sehingga mampu memberikan pelayanan pendidikan yang semakin baik bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil peninjauan dari Dinas Pendidikan, kompleks TK Santhi Kumara disebut sebagai salah satu taman kanak-kanak dengan lahan yang sangat luas di Kabupaten Gianyar serta memiliki fasilitas yang relatif lengkap.
Di sisi lain, FORKOM juga membuka ruang kritik dan masukan dari masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun Desa Temesi secara bersama-sama.
“Bagi kami, kritik adalah masukan yang sangat berharga. Justru teman-teman yang berada di luar daerah sering memberikan perspektif baru mengenai berbagai inovasi yang bisa diterapkan di Desa Temesi, termasuk pengelolaan sampah, pendidikan maupun pembangunan lainnya,” tegas Manik Trikaya.
Melalui semangat kebersamaan tersebut, FORKOM Desa Temesi berharap sinergi antara pemerintah desa, yayasan pendidikan, masyarakat, dan para perantau terus terjalin sehingga mampu melahirkan generasi muda Temesi yang berkualitas serta membawa desa semakin maju, mandiri, dan berdaya saing. (Tim Newsyess)