GIANYAR | Branayogatalks.com – Persoalan sampah yang tak kunjung tuntas, tata ruang yang dinilai semakin semrawut, hingga minimnya kontribusi toko modern terhadap masyarakat menjadi alasan utama I Made Dwiantara, S.AP., M.AP. maju sebagai calon Perbekel Desa Blahbatuh. Akademisi muda yang resmi mendaftarkan diri pada Jumat, 17 Juli 2026 itu menegaskan, Blahbatuh membutuhkan pemimpin yang berani mengambil langkah besar, bukan sekadar menjalankan rutinitas pemerintahan.
Dwiantara, yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Surabaya, mengatakan keputusan maju lahir dari kegelisahannya melihat potensi besar Desa Blahbatuh belum dikelola secara maksimal.
“Blahbatuh adalah desa besar dengan sumber daya manusia dan budaya yang luar biasa. Namun masih banyak persoalan yang belum disentuh secara serius. Saya terpanggil untuk ikut merawat dan membangun desa ini,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan paling mendesak adalah pengelolaan sampah yang hingga kini belum terselesaikan secara menyeluruh.
“Boleh saya katakan, penyelesaiannya belum maksimal. Masyarakat masih bingung harus membuang sampah ke mana. Edukasi masih lemah, sementara regulasi terus bertambah. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan,” ujarnya.
Tak hanya sampah, Dwiantara juga menyoroti penataan ruang Desa Blahbatuh yang dinilainya semakin tidak terkendali. Ia secara terbuka mengkritik banyaknya tiang provider telekomunikasi yang berdiri tanpa penataan sehingga mengganggu wajah desa.
“Banyak tiang provider berdiri semrawut, bahkan ada yang rusak dan nyaris roboh tetapi tidak ada yang merawat. Ketika warga ingin membangun rumah dan meminta tiang dipindahkan, prosesnya sangat rumit. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah,” katanya.
Ia mengungkapkan, pengalaman menata wilayah di banjarnya menjadi bukti bahwa persoalan tersebut sebenarnya bisa diselesaikan apabila pemerintah desa berani bersinergi dengan Desa Adat. Bersama masyarakat adat, ia pernah menertibkan puluhan tiang provider yang dipasang tanpa koordinasi dengan pengurus adat.
Menurutnya, Desa Adat memiliki peran strategis dalam menjaga tata ruang sehingga pemerintah desa tidak boleh berjalan sendiri.
Kritik juga diarahkan kepada keberadaan gerai-gerai toko modern yang terus bertambah di Blahbatuh. Dwiantara mempertanyakan sejauh mana tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan tersebut terhadap desa.
“Dengan menjual barang seharga dua ribu rupiah saja mereka sudah menghasilkan sampah. Pertanyaannya, keuntungan mereka kembali ke mana? Di mana program CSR mereka untuk membantu desa? Pemerintah harus berani meminta pertanggungjawaban sosial kepada pelaku usaha,” tegasnya.
Sebagai akademisi yang sejak jenjang sarjana hingga doktor meneliti persoalan sampah, Dwiantara menawarkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Ia menilai penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari perubahan pola pikir masyarakat melalui edukasi yang berkelanjutan.
Ia mengusulkan agar mahasiswa peserta KKN, PKM maupun program pengabdian masyarakat dilibatkan sebagai agen edukasi lingkungan di setiap banjar. Menurutnya, desa harus mampu memanfaatkan potensi perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan.
Selain edukasi, Dwiantara juga menginginkan adanya penghargaan bagi para pejuang lingkungan yang selama ini bekerja mengelola sampah.
“Mereka layak mendapatkan penghargaan. Jangan hanya menuntut mereka bekerja, tetapi tidak pernah memberikan apresiasi,” katanya.
Bagi Dwiantara, penyelesaian persoalan sampah tidak akan berhasil apabila pemerintah desa berjalan sendiri. Keterlibatan Desa Adat menjadi kunci utama.
Karena itu, ia mengusung konsep sinergitas Desa Adat dan Desa Dinas sebagai fondasi pembangunan Blahbatuh.
“Aturan sudah banyak, tetapi tanpa kekuatan adat, persoalan sampah tidak akan selesai. Adat dan dinas harus berdiri dalam satu barisan membangun Blahbatuh,” ujarnya.
Menjelang pemilihan Perbekel, Dwiantara mengajak masyarakat memilih berdasarkan gagasan, bukan sekadar popularitas. Sebagai kandidat termuda di antara para calon, ia mengaku siap membawa energi baru bagi desa.
“Blahbatuh membutuhkan pemimpin yang gila dalam kewarasan. Gila bekerja, gila berinovasi, dan gila memperjuangkan kepentingan masyarakat. Delapan tahun ke depan akan menentukan arah Blahbatuh. Saya ingin desa ini menjadi lebih maju, tertata, bersih, dan tetap menjaga budaya sebagai identitas utamanya,” pungkas Dwiantara. (Tim Newsyess)