Gianyar | Branayogatalks.com – Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga, SE, yang akrab disapa Ahok Temesi, menyampaikan seruan tegas dan menggugah dalam upaya penanganan darurat sampah di Bali. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa persoalan sampah bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan menyangkut masa depan pariwisata, ekonomi, kesehatan, hingga martabat Pulau Dewata.
Menurut Ahok Temesi, kekuatan perubahan di Bali tidak bisa dilepaskan dari peran desa adat dan kepemimpinan lokal. “Ketika bendesa berbicara, masyarakat mendengar. Ketika desa adat bergerak, perubahan pasti terjadi,” ujarnya, menegaskan pentingnya sinergi antara adat, pemerintah, dan masyarakat.
Ia pun menyerukan langkah tegas dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran pengelolaan sampah. Tidak boleh ada kompromi bagi pelaku pembuangan sampah liar maupun pelaku usaha yang membuang limbah sembarangan. “Harus ditindak tegas. Bila perlu cabut izinnya dan umumkan kepada publik. Hukum yang tidak ditegakkan hanya akan menjadi pajangan,” tegasnya.
Lebih jauh, Ahok Temesi mendorong pembangunan sistem ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah. Ia menekankan pentingnya menghidupkan bank sampah, mengembangkan industri daur ulang, memproduksi kompos, hingga mewujudkan energi dari sampah. “Sampah bukan sekadar masalah, tapi sumber daya yang salah dikelola,” katanya.
Ia juga mengingatkan para pelaku usaha pariwisata—mulai dari hotel, restoran, beach club, hingga pusat perbelanjaan—untuk bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan. “Jangan hanya menikmati keuntungan dari keindahan Bali, tetapi serahkan sampahnya kepada masyarakat. Itu tidak adil,” ujarnya.
Di sisi lain, Ahok Temesi mengajak masyarakat untuk berintrospeksi. Ia menilai, masih banyak perilaku abai seperti membuang sampah ke sungai, melempar plastik dari kendaraan, hingga membuang sampah sembarangan secara diam-diam. “Kita sering menyalahkan pemerintah, tapi lambat mengoreksi diri sendiri,” ungkapnya.
Menurutnya, perang melawan sampah adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah membangun sistem, DPRD melakukan pengawasan, desa adat menggerakkan, pelaku usaha bertanggung jawab, dan masyarakat menjalankan. “Tidak ada penonton dalam perang ini. Kita semua adalah pemain utama,” tegasnya.
Ahok Temesi juga mengingatkan dampak besar jika Bali kalah dalam menghadapi persoalan sampah. “Kalau kita kalah, bukan hanya pemerintah yang kalah. Pariwisata, ekonomi, kesehatan, budaya, bahkan martabat Bali ikut kalah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa wisatawan datang ke Bali untuk mencari keindahan, bukan tumpukan sampah. Investor pun mencari peluang, bukan persoalan. Karena itu, generasi mendatang berhak mewarisi Bali yang bersih dan lestari.
Di akhir pernyataannya, Ahok Temesi mengajak seluruh elemen untuk tidak hanya berdebat atau menyalahkan, melainkan bergerak dan bertindak nyata. “Sejarah tidak ditulis oleh mereka yang mengeluh, tetapi oleh mereka yang berani bertanggung jawab,” ucapnya.
Ia menutup dengan pesan kuat: menjaga Bali bukan pilihan, melainkan kewajiban. “Bali tidak membutuhkan lebih banyak pidato. Bali membutuhkan lebih banyak tindakan dan keberanian. Saatnya kita berhenti bertanya siapa yang bertanggung jawab, karena jawabannya adalah kita semua—sekarang,” pungkas Ahok Temesi. (Tim Newsyess)