GIANYAR | Branayogatalks.com — Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga, SE atau yang akrab disapa Ahok Temesi, menyampaikan apresiasi dan pandangannya terhadap sosok Ketua DPRD Kabupaten Gianyar, I Ketut Sudarsana, sebagai figur pemimpin yang dinilai lahir dari proses panjang kehidupan dan tetap membumi meski kini menduduki jabatan penting.
Dalam penyampaiannya yang penuh refleksi dan nilai kehidupan, Branayoga menggambarkan sosok I Ketut Sudarsana sebagai putra daerah yang tumbuh dari keluarga sederhana, jauh dari kemewahan maupun privilese kekuasaan.
Menurutnya, perjalanan hidup Sudarsana menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerja keras, kesabaran, dan kedekatan dengan masyarakat kecil.
“Beliau tumbuh dari keluarga sederhana yang memahami arti kerja keras dan hidup dari hasil keringat sendiri. Dari keterbatasan itulah karakter beliau ditempa menjadi pribadi yang kuat, rendah hati, dan tidak mudah menyerah,” ungkap Branayoga.
Ia menilai, kesederhanaan yang dijalani sejak kecil membentuk karakter I Ketut Sudarsana menjadi sosok pemimpin yang tidak berlebihan dalam bersikap serta selalu mengingat asal-usulnya.
Branayoga menyebut, di tengah banyaknya pemimpin yang sibuk membangun citra, Sudarsana justru dikenal sebagai pribadi yang tenang dan lebih memilih bekerja nyata di tengah masyarakat dibanding mencari sorotan.
“Beliau bukan tipe pemimpin yang haus panggung. Tetapi beliau hadir langsung di tengah masyarakat, di banjar-banjar dan desa-desa, mendengar keluhan warga tanpa menghakimi dan berbicara tanpa meninggikan diri,” katanya.
Sebagai Ketua DPRD Gianyar, I Ketut Sudarsana dinilai mampu memaknai jabatan bukan sebagai tempat untuk dilayani, melainkan ruang untuk mengabdi dan melayani masyarakat.
Branayoga juga menilai kedekatan Sudarsana dengan rakyat tidak dibuat-buat. Menurutnya, hal itu lahir karena Sudarsana memahami secara langsung bagaimana kehidupan masyarakat kecil, sebab ia sendiri pernah menjalani perjuangan hidup yang tidak mudah.
“Beliau mengerti bagaimana rasanya berjuang dan berharap akan perubahan. Karena itu, setiap langkah dan kebijakannya terasa lebih menyentuh masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh, Branayoga menegaskan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus ditunjukkan dengan sikap keras atau penuh pencitraan. Baginya, sosok I Ketut Sudarsana memperlihatkan bahwa pemimpin bisa dihormati karena kejujuran, konsistensi, dan kerendahan hati.
“Pemimpin tidak harus keras untuk didengar, tidak harus besar untuk dihormati. Cukup jujur, konsisten, dan hadir saat rakyat membutuhkan,” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk belajar dari perjalanan hidup Sudarsana yang ditempa oleh proses panjang, perjuangan, doa, dan pengorbanan.
Menurut Branayoga, kisah hidup Ketua DPRD Gianyar tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan yang akan dikenang masyarakat adalah jejak kebaikan yang ditinggalkan selama hidup.
“Ada seorang anak desa yang tetap menjadi anak desa, meskipun kini duduk di kursi terhormat. Beliau mengajarkan kita untuk tidak pernah lupa tanah tempat pertama kali berpijak,” tutup Branayoga. (Tim Newsyess)