GIANYAR | branayogatalks.com – Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga, yang akrab disapa Ahok Temesi, menyampaikan pandangannya mengenai sosok Dedi Mulyadi sebagai figur pemimpin yang dinilai mampu menghadirkan keteladanan melalui kerja nyata, kedekatan dengan rakyat, serta keberanian dalam mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan dalam program “Branayoga Talks”, sebuah ruang refleksi dan inspirasi yang dibawakan langsung oleh Ketut Branayoga. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kepemimpinan sejati bukan semata-mata diukur dari jabatan ataupun kekuasaan, melainkan dari ketulusan hati dalam melayani rakyat.
“Ada pemimpin yang dikenal karena jabatannya. Ada yang dihormati karena kekuasaannya. Namun ada pula pemimpin yang dicintai karena ketulusannya. Sosok itu menurut saya ada pada diri Kang Dedi Mulyadi,” ujar Ahok Temesi.
Menurutnya, nama Dedi Mulyadi kini tidak hanya dikenal di Jawa Barat, tetapi juga mendapat perhatian luas dari masyarakat Indonesia. Popularitas tersebut, kata dia, bukan dibangun melalui pencitraan semata, melainkan karena konsistensi dalam bekerja dan keberanian untuk selalu hadir di tengah masyarakat.
Ia menilai, Dedi Mulyadi telah menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejatinya hadir untuk melayani, bukan dilayani. Sikap rendah hati dan kedekatannya dengan masyarakat menjadi alasan mengapa banyak rakyat merasa memiliki hubungan emosional dengan mantan Bupati Purwakarta tersebut.
“Beliau tidak membangun jarak dengan rakyat. Justru beliau meruntuhkan sekat antara pemimpin dan masyarakat. Itu yang membuat masyarakat merasa didengar dan diperhatikan,” ungkapnya.
Ahok Temesi juga menyoroti komitmen Dedi Mulyadi dalam menjaga budaya, memperhatikan lingkungan, serta membela masyarakat kecil. Baginya, kepemimpinan yang turun langsung ke lapangan jauh lebih bermakna dibanding sekadar bekerja di balik meja atau ruang rapat.
Selama memimpin Purwakarta, lanjutnya, Dedi Mulyadi dinilai berhasil menghadirkan transformasi daerah yang berkarakter dan berbudaya. Pembangunan ruang publik dengan sentuhan kearifan lokal, penguatan pendidikan karakter, hingga peningkatan pelayanan masyarakat menjadi bukti nyata kepemimpinan yang berpihak pada rakyat.
“Prestasi dan penghargaan yang diraih bukan sekadar trofi, tetapi bukti bahwa kerja keras dan pengabdian akan selalu menemukan pengakuannya,” katanya.
Kini, sebagai Gubernur Jawa Barat, Ahok Temesi melihat ekspektasi masyarakat terhadap Dedi Mulyadi semakin besar. Namun demikian, ia menilai ekspektasi tersebut dijawab dengan langkah-langkah konkret, mulai dari turun langsung ke lapangan, mendengarkan keluhan warga, hingga mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Beliau tidak menunggu laporan datang ke meja pemerintah. Beliau mendatangi langsung persoalan itu sendiri. Pemimpin seperti inilah yang dirindukan rakyat,” tegasnya.
Dalam refleksinya, Ahok Temesi menyebut Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang berani melayani, menghormati budaya, menjaga lingkungan, serta melindungi rakyat kecil. Menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari angka dan laporan di atas kertas, tetapi dari kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat hingga pelosok daerah.
Ia pun mengajak para pemimpin di Nusantara untuk belajar dari gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang mengedepankan kehadiran, ketulusan, dan kerja nyata.
“Rakyat tidak membutuhkan janji yang berlebihan. Rakyat membutuhkan kehadiran dan tindakan nyata. Jika semakin banyak pemimpin berjalan di jalur seperti ini, Indonesia akan menjadi bangsa yang semakin maju, disegani, dan sejahtera,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Ahok Temesi berharap semangat pengabdian dan dedikasi Dedi Mulyadi dapat menjadi inspirasi bagi generasi pemimpin masa depan Indonesia.
“Bangsa besar lahir dari pemimpin-pemimpin besar, dan pemimpin besar selalu lahir dari hati yang tulus. Semoga semangat pengabdian beliau menjadi teladan bagi seluruh anak bangsa,” tutupnya. (Tim Newsyess)