GIANYAR, Bali | Branayogatalks.com – Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, terus menunjukkan langkah progresif dalam membangun kemandirian ekonomi desa berbasis inovasi berkelanjutan. Dalam forum Laporan Pertanggungjawaban Tahun 2025 sekaligus penguatan kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tri Angga Jaya, Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga, yang akrab disapa Ahok Temesi, resmi menunjuk tiga manajer unit usaha strategis untuk mempercepat realisasi konsep besar “Temesi Eco Circular Village”.
Ketiga manajer tersebut akan memimpin unit-unit usaha yang menjadi pilar utama pembangunan desa, yakni Unit Pariwisata, Edukasi dan Digital (Temesi Eco Tourism), Unit Agroindustri dan Ketahanan Pangan, serta Unit Ekonomi Sirkular dan Lingkungan.
Menurut Ahok Temesi, penunjukan tiga manajer profesional tersebut merupakan bagian dari strategi besar BUMDes dalam membangun sistem ekonomi desa yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Konsep besar yang kami bangun melalui BUMDes Tri Angga Jaya adalah membangun ekonomi, menjaga lingkungan, menggerakkan pariwisata, menguatkan ketahanan pangan, dan pada akhirnya menyejahterakan masyarakat melalui inovasi desa berkelanjutan,” ujar Ahok Temesi.
Tiga Pilar Pembangunan Desa
Ia menjelaskan bahwa masing-masing manajer diberikan kewenangan penuh untuk menyusun perencanaan, menjalankan program, hingga melakukan eksekusi di lapangan sesuai bidangnya masing-masing.
Meski memiliki fokus berbeda, ketiga unit usaha tersebut dirancang saling terintegrasi dalam satu ekosistem ekonomi desa yang saling mendukung.
Di sektor pariwisata, BUMDes saat ini sedang mempersiapkan pengembangan kawasan wisata spiritual dan alam Penglukatan Tujuh Bidadari, yang diproyeksikan menjadi destinasi unggulan baru Desa Temesi.
Selain itu, pengembangan Air Terjun Temesi, wisata trekking, short tubing, hingga Riverside Resto juga menjadi bagian dari strategi penguatan sektor wisata berbasis alam dan edukasi lingkungan.
Pada sektor agroindustri dan ketahanan pangan, Desa Temesi tengah mengembangkan program budidaya kelor secara masif.
Saat ini sekitar 600 pohon kelor telah ditanam sebagai tahap awal mewujudkan cita-cita besar menjadikan Temesi sebagai “Kampung Kelor Bali”.
Hasil panen masyarakat nantinya akan diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti mie kelor, teh kelor, bubuk kelor, hingga produk kesehatan berbahan dasar kelor.
Sementara itu, sektor ekonomi sirkular dan lingkungan menjadi program yang paling unik sekaligus menjadi identitas baru Desa Temesi.
BUMDes telah menyiapkan sarana dan prasarana untuk pemilahan sampah serta pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.
Dari Desa Sampah Menjadi Desa Masa Depan
Selama puluhan tahun, Desa Temesi dikenal sebagai lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang melayani Kabupaten Gianyar.
Namun kini, menurut Ahok Temesi, stigma tersebut justru diubah menjadi peluang ekonomi baru.
“Kalau Temesi selama ini identik dengan sampah karena dekat dengan TPA, maka potensi itulah yang kami kembangkan. Selama ini usaha daur ulang plastik masih banyak didominasi oleh pelaku dari luar Bali. Kami melihat ini sebagai peluang yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat,” tegasnya.
Melalui konsep Temesi Plastic Recovery Center, sampah plastik tidak hanya dikumpulkan dan dipilah, tetapi akan diolah menjadi cacahan plastik, biji plastik, bahan baku industri hingga berbagai produk jadi seperti pot tanaman, tempat sampah, furnitur plastik daur ulang, paving block, plakat, gantungan kunci, souvenir wisata, dan berbagai produk kreatif lainnya.
Selain menjadi pusat pengolahan sampah, fasilitas tersebut juga dirancang sebagai pusat edukasi ekonomi sirkular, tempat pelatihan masyarakat, kunjungan sekolah, serta inkubator usaha hijau.
Optimistis Menjadi yang Pertama di Bali
Ahok Temesi mengaku sangat optimistis konsep besar yang sedang dibangun akan berhasil.
Bahkan ia menargetkan pada akhir tahun 2026, Desa Temesi sudah memiliki branding yang kuat sebagai desa pertama di Bali yang secara serius mengintegrasikan ekonomi sirkular, pariwisata, ketahanan pangan, digitalisasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu sistem pembangunan desa.
“Saya optimis seratus persen. Minimal akhir tahun 2026 sudah terlihat branding Desa Temesi sebagai desa yang berani mengambil langkah besar dan berbeda dibandingkan desa-desa lainnya di Bali,” katanya.
Pesan untuk Desa-Desa di Bali
Dalam kesempatan tersebut, Ahok Temesi juga mengajak seluruh pemerintah desa di Bali untuk lebih berani menggali dan mengembangkan potensi lokal yang dimiliki masing-masing wilayah.
Menurutnya, setiap desa memiliki kewenangan, sumber daya, dan anggaran yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Setiap desa memiliki potensi yang berbeda-beda. Tugas kita adalah melihat, menganalisis, dan mengembangkan potensi itu menjadi kekuatan ekonomi desa. Jangan hanya melihat masalah, tetapi ubahlah masalah menjadi peluang. Itulah yang sedang kami lakukan di Temesi,” ujarnya.
Target Besar Tahun 2030
Melalui konsep Temesi Eco Circular Village, Desa Temesi menargetkan menjadi:
Desa Eco Circular Village pertama di Bali.
Pusat edukasi ekonomi sirkular Bali.
Destinasi wisata alam dan lingkungan unggulan Kabupaten Gianyar.
Kampung Kelor Bali.
Desa Digital berbasis teknologi.
Sentra industri daur ulang plastik menjadi produk jadi.
Pencipta lapangan kerja hijau bagi masyarakat.
Pusat peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) melalui BUMDes Tri Angga Jaya.
Dengan semangat “Dari Sampah Menjadi Berkah, Dari Alam Menjadi Kemakmuran, Dari Desa untuk Indonesia”, Desa Temesi kini sedang membangun sebuah model pembangunan desa masa depan yang memadukan ekonomi, lingkungan, teknologi, pariwisata, dan ketahanan pangan dalam satu ekosistem yang berkelanjutan.
Konsep inilah yang kemudian dirangkum dalam motto besar Desa Temesi:
“Membangun Ekonomi, Menjaga Lingkungan, Menggerakkan Pariwisata, Menguatkan Ketahanan Pangan, dan Menyejahterakan Masyarakat melalui Inovasi Desa Berkelanjutan.”
(Tim Newsyess)