GIANYAR | Branayogatalks.com – Pemerintah Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, terus menunjukkan komitmennya dalam membangun desa yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan melalui inovasi berbasis ekonomi sirkular. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga yang akrab disapa Ahok Temesi, desa ini kini mengembangkan program unggulan Temesi Moringa, sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat melalui budidaya tanaman kelor (Moringa oleifera) yang memiliki manfaat besar bagi kesehatan sekaligus bernilai ekonomi tinggi.
Program tersebut menjadi bagian penting dari konsep Temesi Eco Circular Village, yaitu pembangunan desa yang mengintegrasikan pelestarian lingkungan, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Menurut Ahok Temesi, kelor bukan sekadar tanaman biasa, tetapi merupakan aset masa depan yang mampu memberikan manfaat ganda bagi masyarakat.
“Melalui Temesi Moringa, kami ingin mengajak seluruh masyarakat Desa Temesi menanam kelor di pekarangan rumah, kebun, tegalan maupun lahan kosong yang dimiliki. Satu pohon kelor yang ditanam hari ini akan menjadi investasi kesehatan keluarga sekaligus sumber penghasilan di masa depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembangunan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan.
“Program ini merupakan gerakan bersama. Kami ingin membangun Desa Temesi yang sehat, mandiri, produktif, ramah lingkungan, dan memiliki ekonomi yang kuat melalui konsep ekonomi sirkular,” tambahnya.
Sebagai bentuk keseriusan dalam menjalankan program tersebut, BUMDes Tri Angga Jaya telah menanam sekitar 600 pohon kelor yang akan menjadi sumber bahan baku berkelanjutan. Namun, pemerintah desa meyakini keberhasilan program akan semakin besar apabila masyarakat ikut berpartisipasi menanam kelor di lahannya masing-masing.
Direktur BUMDes Tri Angga Jaya, Sang Ayu Kadek Mariana, mengatakan pihaknya siap menjadi penggerak utama dalam pengelolaan hasil panen masyarakat.
“Kami memastikan hasil panen masyarakat memiliki kepastian pasar. BUMDes siap membeli daun kelor segar tanpa ranting dengan harga Rp10.000 per kilogram. Dengan demikian masyarakat tidak perlu khawatir mengenai pemasaran karena seluruh hasil panen akan kami serap untuk diolah menjadi produk bernilai tambah,” jelasnya.
Ia menambahkan, strategi tersebut merupakan upaya menciptakan rantai ekonomi yang saling menguntungkan, mulai dari petani, pengolahan hingga pemasaran produk.

Sementara itu, Manajer Unit Agroindustri dan Ketahanan Pangan BUMDes Tri Angga Jaya, Komang Agung Partha Wijaya, menjelaskan bahwa unit yang dipimpinnya bertanggung jawab mengembangkan budidaya kelor sekaligus mengolah hasil panen menjadi berbagai produk unggulan.
Menurutnya, daun kelor yang dikumpulkan dari masyarakat akan diproses menjadi beragam produk Temesi Moringa, di antaranya Teh Kelor, Mie Kelor, Kopi Jahe Kelor, Bubuk Kelor, hingga Masker Kelor.
“Melalui proses hilirisasi ini, nilai ekonomi daun kelor meningkat berkali-kali lipat. Inilah yang kami dorong agar masyarakat tidak hanya menjadi penanam, tetapi ikut menikmati nilai tambah dari industri berbasis desa,” jelas Komang Agung Partha Wijaya.
Selain memberikan manfaat ekonomi, budidaya kelor juga dinilai mampu mendukung penghijauan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat karena kandungan nutrisi tanaman kelor yang sangat tinggi.
Program Temesi Moringa menjadi bukti bahwa desa mampu menghadirkan inovasi yang menyentuh berbagai sektor sekaligus, mulai dari kesehatan, lingkungan, pertanian, hingga ekonomi kerakyatan. Dengan dukungan pemerintah desa, BUMDes, dan partisipasi aktif masyarakat, Desa Temesi optimistis mampu menjadi pusat pengembangan ekonomi sirkular berbasis kelor yang dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bali bahkan Indonesia.
Mengakhiri ajakannya, Ahok Temesi mengundang seluruh masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan tersebut.
“Mari tanam kelor hari ini, panen manfaat sepanjang masa. Dari Desa Temesi kita bangun kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik. Bersama, kita wujudkan Temesi sebagai pusat ekonomi sirkular berbasis kelor yang menginspirasi Bali dan Indonesia,” pungkasnya. (Tim Newsyess)