BRANAYOGATALKS.COM, GIANYAR – Di tengah rimbunnya alam Desa Temesi, gemuruh air terjun kini bukan hanya menjadi pesona alam, tetapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat. Temesi Waterfall yang dulu sempat diragukan, kini menjelma menjadi kebanggaan desa.
Pada Minggu (8/2/2026), Desa Temesi merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Temesi Waterfall dengan berbagai agenda penting. Mulai dari pelantikan pengurus Pokdarwis, pengukuhan Forum Komunikasi Desa, hingga penyerahan bagi hasil operasional kepada 13 pihak yang terlibat dalam pengelolaannya. Selain itu, bantuan perangkat drumband juga diserahkan kepada anak-anak TK sebagai bentuk dukungan bagi generasi muda.

Kepala Desa Temesi, I Ketut Branayoga yang akrab disapa Ahok Temesi, menyampaikan bahwa perjalanan Temesi Waterfall tidaklah instan.
“Di awal belum ada dana APBDes. Kami hanya mengandalkan semangat dan swadaya masyarakat hingga terkumpul sekitar Rp50 juta untuk membuka akses sederhana,” jelasnya.
Seiring berkembangnya potensi, pemerintah desa kemudian mengalokasikan anggaran melalui beberapa tahap dengan total sekitar Rp425 juta untuk pembangunan akses, fasilitas, dan sarana pendukung.
Hasilnya mulai terasa. Hingga usia dua tahun, Temesi Waterfall telah menghasilkan sekitar Rp70 juta. Pada perayaan HUT ini, hasil tersebut dibagikan kepada 13 pihak, meliputi subak, pemilik lahan, banjar (Temesi, Pegesangan, Peteluan), BUMDes, Pokdarwis, serta dana cadangan desa.
“Ini bukan milik individu, tetapi milik seluruh masyarakat. Karena itu hasilnya juga dibagi secara kolektif sesuai kesepakatan,” tegas Ahok Temesi.

Arah Pengembangan Berkelanjutan
Ahok Temesi menegaskan, Temesi Waterfall akan terus dikembangkan sebagai proyek percontohan pariwisata berbasis masyarakat. Ke depan, desa berkomitmen membangun fasilitas seperti aula, pusat kuliner, dan atraksi wisata lainnya.

“Apa yang dibangun hari ini adalah warisan untuk generasi berikutnya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Temesi Waterfall juga menjadi simbol kekuatan sumber daya manusia desa. Warga Temesi dinilai memiliki potensi besar di bidang pariwisata, dengan kemampuan bahasa asing dan pengalaman di industri wisata.
“Dengan kebersamaan dan potensi yang ada, kami optimistis Temesi bisa bersaing dan dikenal lebih luas,” tambahnya.
Pembentukan Forum Komunikasi Desa juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat solidaritas warga, baik yang berada di desa maupun di luar daerah.
Perayaan ini turut dihadiri berbagai instansi dan unsur masyarakat, menunjukkan dukungan luas terhadap pengembangan pariwisata desa.
Kini, Temesi Waterfall bukan sekadar objek wisata, tetapi simbol bahwa dari keraguan bisa lahir keberhasilan, dan dari kebersamaan tercipta masa depan. (Tim Branayogatalks)