Kades Desa Temesi, Ketut Branayoga Dorong Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Sampah Plastik Bali, Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Tinggi
GIANYAR, Bali | Newsyess.com – Persoalan sampah plastik yang terus meningkat di Bali dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Diperlukan langkah inovatif yang mampu mengubah limbah menjadi sumber daya ekonomi. Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, I Ketut Branayoga yang akrab disapa Ahok Temesi, yang selaku Kades Desa Temesi saat berbicara mengenai pentingnya penerapan ekonomi sirkular sebagai solusi jangka panjang pengelolaan sampah plastik di desa-desa.
Menurut Ahok Temesi, konsep ekonomi sirkular merupakan sistem ekonomi yang mampu menciptakan perputaran nilai dari barang yang sebelumnya dianggap limbah. Dalam konsep tersebut, sampah tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai jual tinggi.
“Ekonomi sirkular itu sebenarnya bisa menyelesaikan persoalan sampah plastik di desa-desa. Di dalamnya ada peluang usaha, lapangan pekerjaan lokal, sekaligus edukasi lingkungan. Plastik yang selama ini dianggap momok menakutkan sebenarnya bisa menjadi sumber daya apabila kita memiliki kemauan untuk mengolahnya,” ujarnya.
Ia menilai selama ini masyarakat Bali lebih banyak menjual sampah plastik ke pengepul untuk kemudian dikirim ke luar daerah, terutama ke Pulau Jawa. Padahal, nilai tambah terbesar justru diperoleh pihak yang mengolah sampah tersebut menjadi produk jadi.
“Selama ini kita melihat plastik-plastik itu dijual berton-ton keluar Bali. Setelah sampai di Jawa, diolah menjadi produk yang bernilai tinggi. Padahal sebenarnya itu peluang besar yang bisa kita kerjakan sendiri di Bali,” katanya.
Investasi Mesin Rp325 Juta
Untuk merealisasikan pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi, Ahok Temesi menjelaskan diperlukan investasi mesin daur ulang yang terdiri dari beberapa tahapan proses, mulai dari pencacahan, pengeringan, peleburan hingga pencetakan.
Menurutnya, satu paket mesin dasar untuk mengolah plastik menjadi lembaran papan daur ulang membutuhkan investasi sekitar Rp325 juta.
“Mesin itu terdiri dari mesin pencacah, pengering, peleleh hingga pencetak. Hasil akhirnya berupa papan daur ulang seperti triplek dengan ketebalan sekitar dua sentimeter dan ukuran satu meter kali satu meter,” jelasnya.
Saat ini, Desa Temesi masih dalam tahap persiapan. Lokasi dan fasilitas pendukung telah disiapkan, sementara pengadaan mesin masih menunggu realisasi.
“Sementara ini kami masih fokus pada pemilahan sampah plastik dan menjualnya ke supplier. Namun lokasi dan persiapan lainnya sudah kami siapkan untuk pengembangan ekonomi sirkular ke depan,” ungkapnya.
Belajar dari Rumah Plastik Mandiri Buleleng
Ahok Temesi mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan kunjungan ke Rumah Plastik Mandiri di Kabupaten Buleleng yang dipimpin oleh praktisi lingkungan, Eka Darmawan.
Menurutnya, tempat tersebut tidak hanya mengolah sampah plastik, tetapi juga memproduksi mesin pengolah plastik yang telah diminati berbagai daerah di Indonesia.
“Kami sudah berkunjung ke Rumah Plastik Mandiri di Buleleng. Di sana mesin-mesin pengolah plastik dibuat langsung. Bahkan saya mendapat informasi mesin-mesin tersebut sudah dipesan oleh berbagai daerah seperti Kalimantan, Sulawesi hingga Papua,” katanya.
Ia meyakini model pengelolaan tersebut dapat direplikasi di berbagai desa di Bali untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru.
Produk Daur Ulang Bernilai Tinggi
Lebih lanjut, Ahok Temesi menjelaskan bahwa hasil pengolahan plastik tidak hanya berupa papan atau lembaran material bangunan. Dengan tambahan teknologi mesin digital berbasis komputer senilai sekitar Rp185 juta, limbah plastik dapat diubah menjadi berbagai produk kreatif bernilai tinggi.
“Kalau ditambah mesin digital, limbah plastik bisa dibentuk menjadi berbagai produk sesuai desain komputer. Bisa menjadi meja, kursi, bokor, patung, ukiran Bali, tapel Barong, ornamen tradisional hingga berbagai produk lainnya,” paparnya.
Ia menyebut proses produksi menggunakan mesin digital sangat efisien. Dalam waktu sekitar 45 menit, satu produk dapat diselesaikan dengan tingkat presisi yang sama untuk setiap pesanan.
“Karena berbasis komputer, hasilnya seragam. Mau membuat ukiran Bali atau produk lain, semuanya bisa dilakukan sesuai desain yang kita masukkan ke sistem,” ujarnya.
Pasar Terbuka Hingga Ekspor
Terkait pemasaran, Ahok Temesi optimistis produk hasil daur ulang plastik memiliki pasar yang luas. Tren pembangunan berkonsep ramah lingkungan, seperti eco villa, eco hotel, hingga berbagai usaha berbasis keberlanjutan, semakin meningkat dan membutuhkan produk-produk daur ulang berkualitas.
“Kalau kita bisa produksi, pasti ada yang membeli. Bahkan jika pasar lokal belum maksimal, produk tersebut bisa dipasarkan ke luar daerah maupun diekspor sesuai kebutuhan dan permintaan pasar,” katanya.
Menurutnya, perkembangan digital marketing saat ini membuka peluang besar bagi produk-produk daur ulang untuk dipromosikan melalui berbagai platform digital seperti media sosial dan marketplace.
Target Bali Bebas Sampah Plastik 2030
Ahok Temesi berharap pemerintah kabupaten, kota hingga provinsi dapat mulai menyusun kebijakan dan skema pendanaan yang serius untuk mendukung ekonomi sirkular di tingkat desa.
Ia menargetkan Bali dapat terbebas dari persoalan limbah plastik pada tahun 2030 apabila seluruh pihak berkomitmen membangun sistem pengolahan berbasis ekonomi sirkular.
“Harapan saya pemerintah mulai memikirkan langkah nyata dari sekarang. Kalau serius, saya yakin tahun 2030 Bali bisa terbebas dari limbah plastik. Sampah plastik tidak lagi menjadi masalah, tetapi berubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi,” tegasnya.
Cukup Lima Are dan Enam Pekerja
Menurut Ahok Temesi, pembangunan pusat pengolahan sampah plastik skala desa tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas. Dengan lahan sekitar lima are dan enam tenaga kerja, proses produksi sudah dapat berjalan secara efektif.
“Lima are sudah cukup untuk menempatkan mesin dan stok bahan baku. Dengan enam orang pekerja saja sebenarnya sudah bisa menjalankan proses daur ulang plastik menjadi produk jadi,” katanya.
Siap Berbagi Ilmu untuk Desa-Desa di Bali
Sebagai bentuk komitmen terhadap penyelesaian persoalan sampah, Ahok Temesi menyatakan siap berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada desa-desa lain di Bali yang ingin menerapkan konsep ekonomi sirkular.
“Kami siap berbagi pengalaman dan ilmu. Kalau nanti sistem ini sudah berjalan dan mesin sudah tersedia, kami ingin penyelesaian sampah dilakukan bersama-sama oleh seluruh desa. Sampah tidak boleh lagi menjadi beban, tetapi harus menjadi sumber kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. Bagi Yang Berminat berdiskusi Bisa Kontak Ahok Temesi (+62 813-3880-4051)
Dengan semakin meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan, gagasan ekonomi sirkular yang diusung Desa Temesi dinilai dapat menjadi salah satu model solusi inovatif dalam mengatasi persoalan sampah plastik di Bali. Selain menjaga kelestarian lingkungan, konsep ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan desa, dan mendorong lahirnya industri kreatif berbasis daur ulang yang berkelanjutan. (Tim Newsyess)