Kabar

I Made Dwiantara Siapkan 150 Paket Sembako untuk Warga Blahbatuh Jelang HUT RI ke-81 tahun Ujud kepedulian pada Sesama

Share:

GIANYAR | Branayogatalks.com – Berbagi bagi I Made Dwiantara, S.AP., M.AP., bukan sekadar kegiatan sesaat, apalagi hanya dilakukan ketika momentum tertentu. Selama lebih dari satu dekade, kepedulian terhadap masyarakat telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Melalui kegiatan “Sarin Biu Berbagi”, Dwiantara secara rutin turun langsung membantu masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan tersebut umumnya dilaksanakan tiga bulan sekali, meski pelaksanaannya dapat menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Bagi Dwiantara, berbagi bukan tentang seberapa besar nilai bantuan yang diberikan. Lebih dari itu, ia ingin hadir dan memastikan masyarakat yang membutuhkan tidak merasa berjalan sendirian.

“Sarin Biu Berbagi itu sudah menjadi kegiatan rutin. Kurang lebih tiga bulan sekali, tergantung situasi dan kondisi di lapangan. Kalau ada kesibukan lain, mungkin pelaksanaannya bergeser satu atau dua minggu,” ujarnya.

Kegiatan sosial tersebut bahkan telah dilakukan Dwiantara di berbagai wilayah di Bali, mulai dari Karangasem, Bangli hingga wilayah lainnya. Ketika terjadi bencana, ia juga berupaya hadir membantu masyarakat yang terdampak.

Menurutnya, kegiatan berbagi tersebut tidak dibangun dengan kepentingan tertentu. Ia ingin kegiatan sosial itu tetap menjadi bentuk kepedulian yang tulus sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan ekonomi seharusnya memiliki manfaat bagi masyarakat.

“Tidak ada kepentingan lain. Saya hanya ingin mengingatkan kembali bahwa ketika kita mendapatkan keuntungan dari usaha, sebagian dari hasil itu harus kembali kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Kini Fokus Berbagi untuk Blahbatuh

Memasuki momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dwiantara kembali menyiapkan kegiatan berbagi untuk masyarakat Desa Blahbatuh.

Sebanyak 150 paket sembako disiapkan untuk disalurkan kepada warga yang dinilai membutuhkan perhatian lebih.

Setiap paket berisi sejumlah kebutuhan pokok, antara lain beras, telur, minyak goreng, sayuran, sabun dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Nilai bantuan setiap paket diperkirakan mencapai sekitar Rp200 ribuan.

Namun, sasaran penerima tidak semata-mata ditentukan berdasarkan data penerima bantuan pemerintah. Dwiantara ingin menyasar masyarakat yang selama ini belum tersentuh program bantuan.

Baca juga:  Cokorda Gde Agusnawa semangat dan Dukungan Keluarga  Makin Menguatkan Langkahnya   Menuju Perbekel Desa Peliatan 2026–2034

“Yang pertama adalah masyarakat yang memang belum tersentuh sama sekali oleh bantuan-bantuan yang ada di desa. Yang kedua, saudara-saudara kita yang sedang sakit,” ungkapnya.

Bagi Dwiantara, masyarakat yang sedang sakit membutuhkan perhatian lebih dari sekadar bantuan materi. Kehadiran dan kepedulian juga menjadi bagian penting untuk memberikan kekuatan secara moral.

“Berbicara dengan orang yang sedang sakit tentu tidak mudah. Mereka merasakan sakitnya sendiri. Karena itu saya ingin hadir di sana, sebagai bentuk kepedulian dan rasa perhatian kepada mereka,” tuturnya.

Data Warga Sakit Jadi Perhatian

Dalam menentukan penerima bantuan, Dwiantara juga mengacu pada data yang telah diterimanya dari pemerintah desa dan Relawan

Sekitar tiga bulan sebelumnya, terdapat 114 warga yang masuk dalam data masyarakat sakit dan berkebutuhan khusus. Namun, setelah kembali melihat kondisi langsung di lapangan, ia menilai masih ada masyarakat lain yang membutuhkan perhatian.

Karena itu, jumlah penerima bantuan akan disesuaikan kembali berdasarkan kondisi nyata di masing-masing banjar.

Dwiantara menegaskan, 150 paket tersebut tidak harus dibagi dengan jumlah yang sama untuk setiap banjar. Pembagian akan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Tidak harus sama rata. Kondisi setiap banjar berbeda. Ada yang jumlah warganya lebih banyak, ada yang lebih sedikit. Nanti kita lihat situasi di lapangan supaya bantuan benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmennya untuk memberikan perhatian lebih kepada masyarakat Blahbatuh.

“Sebagai warga Blahbatuh, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk peduli kepada sesama. Ini bukan hanya soal berbagi sembako, tetapi bagaimana kita menunjukkan bahwa masih ada rasa memiliki dan rasa perhatian terhadap masyarakat,” katanya.

Mengajak Pengusaha Lokal Kembalikan Keuntungan kepada Masyarakat

Dwiantara juga mengajak para pelaku usaha lokal dan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk membangun semangat berbagi secara bersama-sama.

Baca juga:  Bupati Gianyar Mahayastra dan KPU  Perkuat Komitmen Demokrasi, Sinergi Pemilu Berkualitas Ditegaskan Lewat Penandatanganan MoU

Menurutnya, roda perekonomian di Bali harus memberikan manfaat yang lebih luas. Keuntungan yang diperoleh dari aktivitas ekonomi idealnya tidak berhenti pada kepentingan pribadi atau perusahaan, tetapi sebagian dapat dikembalikan kepada masyarakat.

“Harapan saya kepada para pengusaha dan masyarakat luas, mari kita tingkatkan kepedulian kepada sesama. Ketika kita mendapatkan keuntungan, bagaimana hasil dari perputaran uang itu juga bisa kembali kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak pelaku usaha lokal yang memiliki kesadaran sosial untuk membantu masyarakat di sekitarnya.

Menurutnya, konsep tersebut merupakan bentuk sederhana dari semangat menyama braya yang menjadi salah satu kekuatan sosial masyarakat Bali.

“Keuntungan dan perputaran ekonomi itu harus memberikan manfaat bagi nyama-nyama Bali. Kalau semua memiliki kepedulian, saya yakin akan semakin banyak masyarakat yang bisa kita bantu,” katanya.

Berbagi Tanpa Sekat

Bagi Dwiantara, kegiatan berbagi tidak mengenal sekat politik, status sosial maupun kepentingan kelompok. Siapa pun yang membutuhkan, menurutnya, layak mendapatkan perhatian.

Ia ingin kegiatan Sarin Biu Berbagi tetap berjalan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Terlebih, di tengah perkembangan zaman, semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama dinilai perlu terus dirawat.

“Berbagi itu bukan tentang siapa yang paling banyak memberi. Yang penting adalah bagaimana kita mau hadir ketika ada masyarakat yang membutuhkan. Karena pada akhirnya, apa yang kita miliki juga ada bagian untuk masyarakat,” pungkas Dwiantara.

Bagi I Made Dwiantara, 150 paket sembako yang disiapkan mungkin tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat. Namun, dari setiap paket yang berpindah tangan, ada pesan sederhana yang ingin ia titipkan: bahwa kepedulian tidak boleh berhenti, dan tidak seorang pun seharusnya merasa sendirian ketika sedang berada dalam kesulitan. (Tim Newsyess)

Tag:
Kabar Terbaru